Kamis, 01 November 2012

Membentuk Pribadi yang Tangguh

Membentuk Pribadi yang Tangguh
Oleh Ahmad Rivauzi, MA

A.           Pendahuluan
Setiap manusia menghendaki kehidupan yang bahagia, damai, dan jauh dari penderitaan. Fenomena kehidupan manusia yang hidup di zaman modern, tatanan hidup mereka, tujuan dan makna hidup mereka, cara mereka mengisi hidup termasuk bagaimana mereka menjalankan kehidupan adalah tema yang sangat menarik dan penting untuk dikaji. Kehendak dan kebutuhan manusia untuk hidup bahagia itu sesungguhnya ditentukan oleh sejauh mana mereka memahami hakikat kehidupan mereka, bagaimana mereka memaknai hidup mereka dan lainnya.
Pembicaraan dan pembahasan kehidupan manusia modern dan masalah hidup bermakna, dalam berbagai kesempatan telah banyak dilakukan banyak orang seperti yang ditulis oleh  Nurcholis Madjid “ Bahkan boleh dikata bahwa seluruh sejarah umat manusia  adalah wujud dari rentetan  usahanya  menemukan hakikat diri dan makna hidup”.[1] Kesimpulan Nurcholis ini didasari oleh karena memang di dalam adanya dan terwujudnya rasa serta kesadaran akan  makna dan tujuan hidup itulah terwujud kebahagiaan dan kedamaian baik hidup pribadi maupun hidup sosial.
Tekanan yang amat berlebihan dari segi material atau kemajuan dan kecanggihan dalam cara dan teknik dalam mewujudkan keinginan memenuhi hidup material yang telah menjadi ciri utama zaman modern, telah menjadi permasalahan yang dihadapi manusia modern dan ternyata harus ditebus dengan harga yang mahal yaitu kehilangan akan kesadaran makna hidup yang lebih dalam. Kesuksesan manurut manusia yang hidup di era modern ini hampir  identik hanya dengan keberhasilan mewujudkan angan-angan dalam bidang kehidupan material. Ukuran “sukses” atau tidak sukses kebanyakan terbatas hanya kepada seberapa jauh seseorang mampu menampilkan dirinya secara lahiriyah, dalam kehidupan material.[2]
Materialisme orang modern bukanlah merupakan suatu pandangan kefalsafatan seperti layaknya yang ada dalam marxisme, akan tetapi merupakan suatu etos yang memandang kebahagian manusia dan harga dirinya ada dalam penampilan penampilan pisik dan lahiriyah, meskipun orang itu sepenuhnya percaya pada yang gaib atau “immaterial” . Maka ironinya adalah mereka pergi ke dukun untuk memperoleh kekayaan material. Ini tentu sangat berbeda dengan ideologi Marxis yang secara ideologis  tidak mempercayai yang gaib yang tentu juga mereka menolak dan mengharamkan pergi ke dukun. Etos kesuksesan matrealis manusia modern telah menjadi berhala baru yang menghalangi mereka dari kenyataan yang lebih hakiki yaitu kenyataan ruhaniah. Hal ini senada dengan apa yang dikatakan Nurcholis Madjid  “ Etos kesuksesan telah menjadi agama pengganti (ersatz religion)  dan tidak resmi (illicit) , namun secara efektif membelenggu ruhaninya”.[3]
Islam menghargai kerja keras sebagaimana Firman Allah menyatakan :
فَإِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْ(7)وَإِلَى رَبِّكَ فَارْغَبْ(8) (الانشراح:٧-٨)
Artinya :-Apabila engkau telah selesai, (mengerjakan suatu pekerjaan), maka persusah payahlah (mengerjakan yang lainnya)
- Dan kepada Tuhanmu, berharaplah. (al-Insyirah : 7-8)
Dalam ayat di atas secara tegas (explisit), Allah sangat menganjurkan usaha kerja keras untuk kepentingan dunia dan juga akhirat. Akan tetapi lain halnya dengan usaha keras yang dilakukan oleh manusia modern yang matrealis yang hanya terpaku pada kemegahan material dan terkecoh akan kemuliaan abadi yang bertitik tolak pada kebahagiaan kerohanian.
Keterkecohan manusia oleh kehidupan yang rendah (duniya) akan menimbulkan kekosongan dari keinsyafan akan tujuan dan makna hidup yang akan mempunyai  dampak yang sangat jauh dan mendasar . Sebagai contoh , Negara-negara maju banyak terjangkiti oleh penyakit bunuh diri. Kekosongan akan makna hidup dapat menyebabkan orang tidak memiliki harga diri yang kokoh  dan membuat dia tidak tahan akan penderitaan, kekurangan harta benda, maupun penderitaan jiwa karena pengalaman hidup  yang tidak sejalan dengan harapan.
Kekosongan jiwa manusia yang disebabkan oleh keterkecohan kehidupan rendah ini  juga pernah diungkapkan oleh Robert Musil, seorang nofelis terkenal dari Australia, dan para ahli kontemporer lain sebagaimana dikutip oleh Nurcholis Madjid , sebagai gejala “kepanikan epistimologi”akibat dari penisbian yang berlebihan dalam pandangan hidup.[4] Mereka mengatakan bahwa di Eropa sekarang sedang mengalami kepanikan tentang pengetahuan dan makna. Keduanya merupakan persoalan utama pembahasan epistimologi dalam falsafah. Fenomenanya adalah di bawah gelimangan kemewahan harta itu terdapat perasaan putus asa, perasaan takut yang mencekan yang dikarenakan tidak adanya makna, tidak pastinya pengetahuan, dan tidak mungkinnya seseorang berkata dengan mantap tentang apa yang diketahuinya atau bahkan apa memang dia sudah tahu. Akhirnya pengetahuan menjadi sama nisbinya dengan segala sesuatu yang lain. Kenyataan ini dapat dipahami karena  semua yang mereka peroleh dilahirkan dari pemikiran yang hanya mampu menatap dan mengkaji sesuatu yang bersifat material, atau sesuatu yang dapat dicermati, dan diamati (observable) melalui instrumen indrawi, atau objek yang bersifat lahiriah.
Persoalan ini juga pernah ditanggapi oleh Hamka yang mengkritisi tentang akar persoalan kehampaan jiwa ini “ Kerusakan dan kekacauan jiwa, adalah tersebab dari karena manusia tidak mempunyai tujuan hidup, tidak mempunyai ide”.[5]
Kenyataan ini tentu akan sangat jauh berbeda dengan orang yang menghayati sebuah pengetahuan dan makna yang tidak cuma didapatkan melalui rasional saja tetapi juga melalui potensi spritual. Perbedaan ini dibuktikan karena tidak semuanya dapat diketahui melalui proses-proses rasional dan tidak semuanya masuk ke dalam dunia empirik. Di sinilah berperannya kedudukan iman yang dibarengi dengan berpikir dalam upaya penemuan hakikat sebuah kebenaran yang utuh yang kalau dilihat isyarat al- Qur’an tentang perintah Allah untuk berpikir yang pada dasarnya bertujuan agar manusia lebih mudah untuk beriman dan tunduk ta’abud kepada-Nya.
B.            Permasalahan Dunia Pendidikan
Sebuah kenyataan yang harus diakui adalah di satu sisi manusia merupakan produk sejarah masa lalu dan produk lingkungannya dengan tidak menafikan peranan pribadi manusia yang bersangkutan. Seperti juga pernah ditulis oleh Marleau Ponty sebagai englobe dan englobant yang artinya manusia tidak hanya dimuat atau dipengaruhi oleh dunia (englobe), tetapi juga memuat atau mempengaruhi dunia (englobant).[6] Hal ini bisa kita simpulkan bahwa kegagalan manusia sekarang dalam menemukan makna hidup juga merupakan akibat dosa sejarah yang dilakukan oleh komunitas sosial, penyelenggara dan sistem pendidikan yang ada selama ini.
Kondisi kegagalan pendidikan dalam usaha transformatif nilai, ilmu dan makna hidup juga dialami oleh lembaga pendidikan Islam yang dinamakan selama ini, atau penyelenggaranya yang beragama Islam, kemudian gagal merumuskan (memformulasikan) bangunan (kostruksi) sistem pendidikan yang akan membantu manusia dalam menemukan makna hidupnya. Karena pada dasarnya pendidikan jangan cuma membawa manusia ke alam pengembaraan intelektual akan tetapi juga harus mampu membawa ke alam pengembaraan spiritual. Kegagalan lembaga pendidikan Islam ini juga digambarkan oleh M. Arifin:
 “Kemampuan lembaga pendidikan Islam yang pernah membuktikan dirinya menjadi liberating forces dari belenggu kemunduran  dan keterbelakangan  taraf hidup material dan mental pada zaman permualan sejarah dan pada abad kecerahannya (abad 7 – 14 M), telah mengalami krisis demi krisis yang kronis yang melemahkan”.[7]
Kenyataan ini berbeda dengan isyarat yang dikehendaki al Qur’an yang menghendaki agar setiap generasi hendaklah merasa khawatir meninggalkan generasi-generasi yang lemah. Sebagai wujud kekhawatiran itu tentunya dibutuhkan tindakan aplikatif yang terlahir dari rasa tanggung jawab seperti firman Allah surat an Nisa’ ayat 9:
وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا(9) (النسأ : ٩)
Artinya: “hendaklah mereka takut, jika sekiranya mereka meninggalkan anak-anak yang lemah dibelakangnya, takut akan terlantar anak-anak itu, maka hendaklah mereka takut kepada Allah dan berkata dengan perkataan yang betul” (an-Nisa’ : 9)

     Pendidikan Islam seharusnya mampu menjadikan manusia atau pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi baik jasmaniah maupun ruhaniah, menumbuh suburkan hubungan yang harmonis baik dengan Allah maupun dengan manusia dan alam semesta,[8] dan membantu pribadi-pribadi dalam usaha penemuan makna hidupnya.
     Kemudian kalau dilihat kepada skop yang lebih kecil yaitu di Indonesia dengan sistem yang telah menghasilkan produk pendidikannya. Betapa banyaknya kasus – kasus korupsi, kolusi dan nepotis yang dilakukan oleh manusia- manusia Indonesia yang diberikan  amanah kepada mereka pada setiap jajaran institusi. Mereka adalah produk sistem pendidikan kita. Betapa banyaknya manusia-manusia Indonesia yang melakukan pelanggaran nilai-nilai moral yang lain seperti, pelacuran, pencopetan, pembunuhan, perselingkuhan, pengangguran dan lain sebagainya. Sekali lagi penulis tegaskan bahwa mereka itu semua itu pernah dididik dalam sistem pendidikan nasional kita. Barangkali kita harus adil melihat semua ini  bahwa kegagalan manusia-manusia Indonesia mengapresiasi nilai-nilai moral adalah karena kegagalan sistem pendidikan nasional dalam mencapai tujuan pendidikan nasional.
     Dalam konteks pendidikan Islam pun demikian. Banyak orang yang mengaku agama Islam  tetapi tidak hidup secara Islam atau banyak umat Islam Indonesia tidak tahu apa itu sebenarnya Islam, atau banyak juga yang tahu dengan Islam tapi hati mereka mati tidak mampu menangkap pancaran Nur Ilahi. Seolah–olah mereka merasakan Islam tidak membawa rahmat bagi mereka walaupun Allah telah menegaskan bahwa Islam itu diturunkan-Nya untuk menjadi rahmat.
     Mustahil peserta didik akan cerdas rohaniahnya kalau pendidiknya, metodenya, materinya tidak simultan membangun dan melahirkan peserta didik yang cerdas  secara ruhaniah. Pendidikan Islam kadang hanya berbicara bagaimana mencerdaskan imtelektuanya dan tidak pernah serius membicarakan bagaimanana mencerdaskan ruhaniahnya. Aktivitas pendidikan sa’at ini agaknya kurang berpedoman kepada bagaimana Nabi Muhammad mendidik manusia yang lebih mengutamakan membangun ruhaniah terlebih dahulu baru membangun aspek yang lain.  
     Berdasarkan kenyataan di atas, maka tema bagaimana membentuk pribadi yang kuat secara Qur’ani menjadi sangat penting.

C.           Upaya Membentuk Pribadi yang Kuat

     Dalam perspektif Islam, salah satu karakteristik orang yang berkepribadian kuat adalah bertakwa. Pribadi yang bertakwa dicirikan dengan pribadi yang mampu ber-muraqabah kepada Allah SWT. Muraqabah dapat diartikan dengan kondisi merasa dekat yang dirasakan oleh seorang hamba terhadap Allah sebagai Tuhannya.
            Pada hakikatnya, Allah sangat dekat dengan hamba-Nya melebihi kedekatan nadi seorang hamba terhadap dirinya sendiri. Akan tetapi, kedekatan seorang hamba terhadap Tuhannya akan dirasakan jauh bahkan sangat jauh dengan Tuhannya jika sihamba itu sering dan banyak melakukan kesalahan atau dosa yang dilakukannya dalam keadaan sadar. Semakin banyak dosa, Allah akan terasa semakin jauh dan akan menyebabkan si hamba merasa tidak nyaman untuk melakukan pengaduan (munajah) kepada Tuhannya. Kondisi ini sesunggguhnya merupakan kondisi yang sangat merugikan sebagai seorang hamba.
            Kesalahan atau dosa yang dilakukan seorang manusia tidak dapat dilepaskan oleh kelemahan manusia dalam melakukan pengendalian dirinya dari dorongan hawa nafsunya. Hawa nafsu adalah sebuah potensi insani yang jika tidak dikendalikan untuk selaras dengan kehendak Allah akan membawa manusia kepada kenistaan dan derajat yang rendah.
            Hakikat dari ibadah adalah terpeliharanya kesucian jiwa atau ruhani manusia dengan pengendalian diri ( naha an-nafs ‘an al-hawa). Dengan pengendalian diri dari dorongan hawa nafsu, maka ruh akan terjaga dari ke-kotoran yang jika diiringi dengan taubat, maka ruh manusia akan disucikan oleh Allah.
            Kesucian ruh inilah yang menjadi syarat utama bagi seorang manusia untuk dapat mendekatkan diri dan merasakan kedekatan kepada Allah dan dapat merasa nyaman bersama Allah SWT. Inilah kunci bagi manusia untuk dapat merasakan kebahagiaan, kenyamanan, dan ketenangan bathin.
             Ada empat hal[9] yang perlu dilatihkan bagi setiap mukmin untuk dapat ber-muraqabah dengan Allah.
1.       ( يقرون بعبودتيه )Orang-orang yang mengekalkan diri dalam berubudiyah kepada Allah.
Mengekalkan diri dalam beribadah atau melakukan ibadah yang kontiniu tidak harus bermakna seorang muslim harus melakukan shalat sepanjang waktu, atau puasa sepanjang tahun. Yang dituntut dalam mengekalkan ibadah di sini adalah dengan menghadirkan hati dalam setiap aktivitas dengan melakukan pemaknaan spiritual terhadap semua aktivitas tersebut.
Banyak muslim yang rajin melakukan ibadah mahdhah, namun lalai melibatkan hati (qashdu syai’ bi ar ruh). Ibadah lahiriyah atau jasmani akan kehilangan makna tanpa melibatkan dimensi kesadaran atau kesengajaan ruh dalam melakukannya. Mengawali aktivitas dengan niat ibadah dan menjadikan aktivitas apa saja sebagai bentuk-bentuk kepatuhan kepada Allah adalah kunci utama mengekalkan diri dalam beribadah.
Menghadirkan kesadaran jiwa atau hati dalam berbagai keadaan, dimanapun dan sedang melakukan apa pun akan menjadikan seseorang selalu terhubung dengan Allah. Semua kegiatan yang dilakukan muslim dalam keadaan seperti ini akan mengangkat semua kegiatan itu menjadi zikir baginya. Seorang petani yang mengayunkan cangkulnya di sawah, maka setiap ayunan cangkul itu akan menjadi zikir baginya dan dapat mengantarkannya kepada keadaan muraqabah. Begitu juga halnya dengan kegiatan-kegiatan kehidupan lainnya pada profesi apapun.
2.       ( ويقرون بربوبيته )           Orang-orang yang mengekalkan diri dalam Rububiyah Allah.
Rabba-yurabbi-rabban ( رب – يرب – ربا ) secara bahasa berarti mengasuh, mengatur, dan memimpin. [10] Mengekalkan diri dalam rububiyah bermakna bahwa segala sesuatu yang ada pada alam semesta merupakan ciptaan Allah dan selalu berada dalam genggaman, asuhan, serta penguasaan Allah. Seorang muslim yang sadar akan rububiyah Allah akan merasakan bahwa tidak ada satu urusan apa pun yang luput dari genggaman Allah.
Kesadaran dan keyakinan  rububiyah ini perlu selalu dihadirkan dalam jiwa dan hati seorang muslim.  Keyakinan rububiyah yang sudah hayat (hidup) dalam jiwa akan menyelamatkan manusia dari berbagai macam penyakit kronis ruhani. Penyakit kronis ruhaniyah ini dapat dicontohkan dengan kesombongan ketika berhasil, putus asa ketika gagal, stres dalam memikul berbagai kesibukan dan banyak lagi lainnya.
Memiliki kesadaran rububiyah akan menjadikan manusia mampu bersyukur ketika berbahagia dan mendapat nikmat, dan akan mampu bersabar ketika ditimpa seseuatu yang tidak disukai atau sedang menerima kegagalan dan ujian dari Allah Swt. Kesadaran rububiyah akan memberikan pencerahan yang bersifat spiritual kepada manusia bahwa segala susuatu yang dimiliki dan diterima oleh manusia merupakan pemberian Allah karena rahman dan rahimnya Allah. Kesungguhan dalam berusaha hakikatnya adalah kewajiban manusia dan keberhasilan dari usaha itu, tidak lebih dari kemurahan Allah semata. Sehingga dengan demikian bagi seorang mukmin tidak ada istilah kecewa dan putus asa dalam kegagalan dan angkuh serta sombong ketika sukses. Karena jiwa manusia, kekuatan dan kelemahan yang terdapat pada setiap diri umat manusia adalah anugerah Allah semata yang harus disyukuri dan diberdayakan sesuai dengan kehendak Allah Swt. Inilah kunci sukses dan optimisme setiap orang yang beriman kepada Allah Swt.
3.      ( ويصدقون بالمعاد اليه ) Orang-orang yang membenarkan akan kembali kepada Allah.
Keyakinan terhadap janji Allah dan keyakinan bahwa segala sesuatu akan kembali kepada Allah Swt., membantu manusia untuk memiliki kelapangan ruhaniyah. Manusia sering dijajah oleh perasaan keragu-raguan, kebimbangan serta kebingungan terhadap ketidakpastian hari esok. Manusia bertanya tentang hari esok, keberuntungan apa yang bisa didapatnya, atau bahkan bencana serta malapetaka apa yang akan datang mendekat. Sekarang sehat, datang kekhawatiran dalam jiwa, bagaimana kalau sakit datang menimpa bahkan muncul rasa takut datangnya kematian yang akan mengakhiri kehidupan dunia ini. Semuanya merupakan ketidakpastian.
Pertanyaan-pertanyaan di atas merupakan keresahan jiwa manusia yang dikungkung oleh berbagai rasa, seperti ketakutan, kekhawatiran, was-was, keresahan, dan beribu perasaan lainnya yang bahkan kadang manusia itu sendiri tidak dapat memahami perasaan apa yang mereka rasakan.
Kehidupan ini bukanlah kehidupan 1 (satu) dimensi yang dapat ditebak dengan sesuatu yang bersifat pasti. Kehidupan memiliki “n” dimensi.[11] Ada beribu kemungkinan yang tidak terhitung. Kondisi akan membuat derita jiwa bagi orang-orang yang buta mata hatinya. Kebutaan mata hati inilah yang akan menimbulkan kecemasan-kecemasan yang akan melahirkan berbagai penyakit keruhanian.
Menyakini dan membenarkan bahwa segala susuatu akan kembali kepada Allah akan membantu ruhani manusia terbebas dari keresahan jiwa terhadap ketidakpastian di atas. Hanya satu yang pasti dalam hidup ini, yaitu Tuhan. Dia lah kepastian sumber kehidupan dan akan kembali kepada-Nya secara pasti juga. Dia yang merahmati makhluk-Nya, Dia juga yang akan memberikan balasan terhadap keshalehan hamba-Nya serta akan membiarkan rasa derita jiwa bagi manusia yang tidak meng-imani-Nya.
Seorang mukmin yang meyakini Allah sebagai tempat kembalinya, akan mampu untuk ikhlas dalam beramal, sabar dan lapang dada dalam berbagai keadaan sulit. Tidak perlu harap terhadap pujian dan sanjungan manusia, karena rahmat Allah lebih besar dari semua itu. Juga tidak perlu kecewa jika kebaikan yang dilakukan kepada manusia lain, dibalasi dengan sesuatu yang tidak baik, karena cukupkanlah Allah sebagai Zat yang Maha Membalasi semua kebaikan. Begitu juga halnya, tidak perlu membalas kejahatan orang lain karena cukuplah Allah sebagai hakim yang adil dalam memberikan ganjaran dan balasan.
Menghadirkan keyakinan bahwa Allah tempat kembalinya semua urusan dan maha adil dalam memberikan balasan dan ganjaran, merupakan solusi utama dari berbagai fenomena sosial yang sering terjadi dalam kehidupan ini. Hilangnya kesabaran dalam menghadapi persoalan hidup, baik persoalan pribadi maupun persoalan masyarakat dapat terjadi  karena tipisnya kesadaran ruhani umat manusia terhadap Tuhannya. Tidak adanya kesadaran ini menjauhkan ruhani manusia dari pencerahan ke-Tuhanan karena Tuhan itu sendiri terasa jauh dari kehidupan yang disebabkan keengganan manusia itu sendiri untuk berdialog dengan Tuhannya dalam hidupnya.
4.      ( ويسلمون لقضائه ) Orang-orang yang tunduk kepada ketentuan Allah.
Sering didengar keluhan dari umat Islam itu sendiri yang mengisahkan keringnya jiwanya dan beratnya hati untuk mengadu (munajah) kepada Allah. Enggannya hati untuk menghadap Allah ketika lapang, tentunya akan membuat hati jadi tidak nyaman mengadu kepada Allah ketika dalam keadaan sulit dan sempit. Kerasnya hati untuk mensyukuri nikmat Allah ketika memperoleh rizki, dengan sendirinya juga akan membuat enggannya jiwa untuk menadahkan tangan kepada Allah dalam mushibah.
Manusia dapat membangkang terhadap ketentuan Allah, namun perlawanan manusia tidak akan merubah ketentuan Allah. Ketika seorang manusia ditimpa mushibah misalnya, kerasnya hati manusia dapat menolak dan membenci mushibah itu, namun tetap saja, segala sesuatu yang sudah terjadi tetap tidak berubah. Orang yang sudah mati tidak akan hidup lagi walaupun semua manusia menolak kematian tersebut.
Ikhlas terhadap ketentuan Allah dan menyatu dengan kehendak Allah adalah langkah keberuntungan untuk dapat damai dan tenang dalam hidup. Dalam kitab Tanbih al-Masyi, Abdurrauf Singkel mengutip sebuah hadits qudsi [12]:
ابن ادم تريد واريد ولا يكون الا ما اريد فان سلمت لي فيما اريد اعطيتك ما تريد وان نزعتني فيما اريد اتعبتك فيما تريد ثم لا يكون الا ما اريد   
Arinya: Hai anak Adam, engaku punya keinginan, dan Akupun demikian. Jika engkau pasrah terhadap apa yang Aku inginkan, maka Aku akan memberikan apa yang engkau inginkan. Namun jika engkau menentang apa yang Aku inginkan, Aku akan mempersulit apa yang engkau inginkan sehingga tidak akan terjadi sesuatu kecuali apa yang Aku inginkan
Empat prinsip yang telah dijelaskan di atas merupakan prinsip penting untuk dilatihkan dan dibiasakan oleh setiap muslim untuk ber-muraqabah dengan Allah Swt guna terbentuknya pribadi yang kuat.
D.           Kesimpulan
Pendidikan jiwa dan mengembalikan kesucian jiwa dengan amaliyah yang shaleh serta memahami prinsip-prinsip latihan muraqabah, dan dilakukan dengan prinsip iman, dan penuh perhitungan serta keikhlasan akan dapat dinilai oleh Allah sebagai ibadah sehingga Allah Swt., merahmati dan menganugrahkan kesucian jiwa, dan mengangkatnya kepada kemuliayaan dengan diberikannya kepekaan ruhaninyah untuk dapat merasakan kedekatan dengan Allah Swt.
Jika manusia dapat merasakan kedekatan dengan Allah, maka ketakwaan akan menjadi pakaian manusia itu dan ia akan menjadi kuat. Tapi jika manusia merasa jauh dengan Allah, maka ketakwaan tidak akan pernah bisa terwujud dalam jiwa setiap manusia dan jiwanya akan menjadi rapuh dan lemah.




DAFTAR BACAAN
al-‘Aki, Khalid Abdurrahman, Shafwah al-Bayan li Ma’ani al-Qur’an al-Karim, Damsyiq; al-Khathath ‘Utsman Thaha, 1994

Arifin , H. M., Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum),Jakarta; Bumi Aksara, 1995

Daulay, Haidar Putra , Pendidikan Islam Dalam Menghadapi Abad XXI(Tinjauan dari sudut Inovasi Kurikulum, Pendidikan dan Lembaga Pendidikan), Medan; Majalah Fitrah, 1996

Djumhana, Hanna,  Meraih Hidup Bermakna (Kisah Pribadi dengan Pengalaman Tragis), Jakarta; Bumi Aksara, 1996

Hamka, Lembaga Budi, Jakarta; Pustaka Panjimas, 1983

Rivauzi, Ahmad, Pendidikan Berbasis Spiritual; Tela’ah Pemikiran Pendidikan Spiritual Abdurrauf Singkel dalam Kitab Tanbih al-Masyi (Tesis), Padang; PPs IAIN IB Padang, 2007

Singkel, Abdurrauf, Tanbih al-Masyi, (Manuskrip Naskah) tth
Tasmara, Toto, Kecerdasan Ruhaniah (Transendental Intelligence) Membentuk kepribadaian yang bertanggung jawab, Profesional, dan berakhlak, Jakarta, Bina Insani Press,2001

Yunus, Mahmud, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Hida Karya, 1990) Cet. VIII
Zohar, Danah, dan Ian Marshall, SQ; Memamfa’atkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, Penj. Rahmani Astuti dkk., Bandung: Mizan, 2001



                [1] Hanna Djumhana, Meraih Hidup Bermakna (Kisah Pribadidengan Pengalaman Tragis), (Jakarta; Bumi Aksara, 1996), h. xv
[2] Ibid. h. xvi
                [3] Ibid. h. xviii
                [4] Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Transendental Intelligence) Membentuk kepribadaian yang bertanggung jawab, Profesional, dan berakhlak, (Jakarta, Bina Insani Press,2001) h.2  h.xix

                [5] Hamka, Lembaga Budi, (Jakarta; Pustaka Panjimas, 1983),h. vii
                [6] Hanna Djumhana, Op. cit., h.47
                [7] H. M. Arifin, Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum),(Jakarta; Bumi Aksara, 1995), h. 36
[8] Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam Dalam Menghadapi Abad XXI(Tinjauan dari sudut Inovasi Kurikulum, Pendidikan dan Lembaga Pendidikan), Medan; Majalah Fitrah, 1996),h.12
[9]  Khalid Abdurrahman al-‘Aki, Shafwah al-Bayan li Ma’ani al-Qur’an al-Karim, (Damsyiq; al-Khathath ‘Utsman Thaha, 1994) h. 64
[10] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia, (Jakarta: Hida Karya, 1990) Cet. VIII, h. 136 . Dalam bahasa sehari-hari, pada asalnya kata ini dinisbahkan kepada Allah dengan makna Tuhan, Pencipta, Pengatur dan lain sebagainya.
[11]  Dalam salah satu teori matematika yang disebut “hyperspace” Michio Kaku; seorang fisikawan mengatakan bahwa ruang tidak memiliki dimensi dua, tiga, atau empat dimensi. Tetapi “n” dimensi. Lihat, Danah Zohar dan Ian Marshall, SQ; Memamfa’atkan Kecerdasan Spiritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, Penj. Rahmani Astuti dkk. (Bandung: Mizan, 2001),  h. 57
[12]  Ahmad Rivauzi, Pendidikan Berbasis Spiritual; Tela’ah Pemikiran Pendidikan Spiritual Abdurrauf Singkel dalam Kitab Tanbih al-Masyi (Tesis), (Padang; PPs IAIN IB Padang, 2007)  h. 149. Dalam Manuskrip naskah Asli Abdurrauf Singkel dapat ditemukan pada,  Ms.B. h. 94 dan Ms.A., h. 7

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar