Selasa, 10 Maret 2026

 FIQIH I’TIKAF

Oleh: Dr. Ahmad Rivauzi, S.PdI, MA

A.   Pengertian I’tikaf

Secara etimologi, I’tikaf berarti menetapi sesuatu, menekuninya dan menahan diri di dalamnya baik hal itu baik atau buruk

إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ ﴿٥٢﴾

(Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada bapaknya dan kaumnya: "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?" (QS. Al- Anbiya’, 21: 52

Menurut terminology, I’tikaf adalah berdiam di Masjid dengan niat taqarrub kepada Allah swt.

 وَلاَ تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ 

… janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid. … (QS. Al-Baqarah, 2: 187)

B.    Landasan Syar’I I’tikaf

عَنْ عَائِشَةَ اَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْاَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ اَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ 

 (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada tahun Nabi Muhammad meninggal, Nabi I’tikaf  selama 20 hari (Hadits Bukhari )

C.   Jenis I’tikaf

1.     Wajib (I’tikaf yang dinazarkan)

من نذر أيطيع الله فليطعه

Barang siapa bernazar untuk taat pada Allah, maka hendaklah ia taat pada-Nya (HR. Bukhari)

2.     Sunnah

D.   Waktu I’tikaf

I’tikaf wajib, dilaksanakan sesuai dengan apa yang dinazarkan.

I’tikaf sunnah tidak memiliki batas waktu tertentu. 

Al Mardawi mengatakan,“Waktu minimal dikatakan i’tikaf pada i’tikaf yang sunnah atau i’tikaf yang mutlak adalah selama disebut berdiam di masjid (walaupun hanya sesaat).”

E.    Tempat I’tikaf  di Masjid

Al-Qurthubi mengatakan,

أجمع العلماء على أن الاعتكاف لا يكون إلا في مسجد

Ulama sepakat bahwa i’tikaf hanya boleh dilakukan di dalam masjid. (Tafsir al-Qurthubi, 2/333).

Keterangan yang sama juga disampaikan Ibnu Rusyd,

وأجمع الكل على أن من شرط الاعتكاف المسجد ، إلا ما ذهب إليه ابن لبابة من أنه يصح في غير مسجد

Semua ulama sepakat bahwa diantara syarat i’tikaf harus dilakukan di masjid, kecuali pendapat Ibnu Lubabah yang mengatakan, boleh i’tikaf di selain masjid. (Bidayah al-Mujtahid, hlm. 261)

Untuk itu, sebagai catatan, bahwa kata masjid dalam istilah fikih ada dua,

1.     Masjid jami’, itulah masjid yang digunakan untuk shalat 5 waktu dan shalat jumat

2.     Masjid ghairu Jami’, itulah masjid yang digunakan untuk shalat 5 waktu saja, dan tidak digunakan untuk jumatan. Masjid jenis  ini, di tempat kita disebut mushola.

Hukum bernazar i’tikaf pada masjid tertentu:

1.     Jika bernazar i’tikaf pada salah satu tiga masjid; 1) Masjid Nabawi; 2) Masjid al-Haram; 3) Masjid al-Aqsha, maka ia wajib laksanakan i’tikaf pada  Masjid tersebut.

Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda,

لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ – صلى الله عليه وسلم – وَمَسْجِدِ الأَقْصَى

“Tidaklah pelana itu diikat –yaitu tidak boleh bersangatan bersungguh-sungguh melakukan perjalanan (dalam rangka ibadah ke suatu tempat)- kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, masjid Rasul –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan masjidil Aqsho” (HR. Bukhari 1189 dan Muslim no. 1397). 

2.     Namun jika bernazar i’tikaf pada selain tiga masjid tersebut, maka tidak wajib melakukan pada Masjid yang telah ditentukan. Ia hanya wajib lakukan pada masjid yang ia sukai

F.    Syarat I’tikaf

Islam, mumayyiz, suci dari janabah, haid, dan nifas.

G.    Rukun I’tikaf

1.      Niat untuk untuk berdiam diri di dalam masjid, dan bagi mereka yang bernadzar untuk I’tikaf, maka diwajibkan baginya untuk mengucapkan kata fardhu di dalam niat I’tikafnya.

2.      Berdiam diri dalam masjid dalam rentang waktu lebih dari lamanya thuma’ninah dalam shalat.

H.   Amalan dalam I’tikaf

1.     Shalat, tilawah al-Quran, zikir, tasbih, dll

2.     Mempelajari buku-buku yang bermamfaat

I.      Hal yang Membatalkan I’tikaf

Beberapa hal yang membatalkan i’tikaf yaitu:

1.     Sengaja keluar dari masjid tanpa suatu keperluan walaupun sebentar

2.     Murtad

3.     Hilang akal karena gila atau mabuk

4.     Haid, nifas dan yang mendatangkan hadas besar

5.     Bersetubuh

J.      Hukum Qadha I’tikaf

Hukum memutus i’tikaf sebelum sampai waktu yang diniatkan.

Syafi’i: Jika i’tikafnya adalah i’tikaf sunnah, maka tidak perlu qadha, tetapi jika di qadhanya, maka lebih baik

Jika i’tikaf nazar, menurut imam mazhab maka wajib diqadha