Jumat, 01 Mei 2015

ISLAM DAN KESEHATAN

ISLAM DAN KESEHATAN
Oleh: Dr. Ahmad Rivauzi, MA
Menurut Quraish Shihab (2007: 181), setidaknya terdapat dua istilah literatur keagamaan yang digunakan untuk menunjuk tentang pentingnya kesehatan dalam pandangan Islam. Pertama, sehat yang terambil dari kata shihah, kedua, sehat dengan menggunakan kata ‘afiat (Ahmad Rivauzi, 2015: 297).
 Quraish Shihab (2007: 182) menjelaskan, walupun dua kata tersebut memiliki arti yang sama, namun masing-masingnya digunakan untuk hal yang berbeda. Di dalam literatur keagamaan sendiri seperti dalam Hadits sendiri ditemukan sekian banyak doa yang mengandung permohonan sehat dan permohonan ‘afiat. Dalam kamus Bahasa Arab, kata ‘afiat diartikan sebagai perlindungan Allah untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipu daya. Perlindungan tersebut berkaitan dengan sejauhmana seseorang mengindahkan petunjuk-petunjuk Allah. Dengan demikian, kata ‘afiat bermakna berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan penciptaan manusia. sedangkan kata shihat diartikan sebagai keadaan baik bagi segenap anggota tubuh. Berdasarkan keterangan ini maka dapat disimpulkan dalam sebuah contoh, mata yang sehat adalah mata yang dapat melihat tanpa menggunakan kacamata, sedangkan mata yang ‘afiat adalah mata yang dapat melihat dan membaca objek-objek yang bermamfaat serta mengalihkannya dari memandang dan membaca objek-objek yang terlarang, karena inilah fungsi dasar dari penciptaan mata oleh Allah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam musyawarah Nasional Ulama pada tahun 1983 telah merumuskan pengertian sehat sebagai ketahanan jasmaniah, ruhaniah, dan sosial yang dimiliki manusia sebagai karunia Allah yang wajib disyukuri dengan mengamalkan semua tuntunan Allah, memelihara, dan mengembangkannya (Ahmad Rivauzi, 2015: 298).   
A.  Pandangan Islam tentang Kesehatan Jasmani
Menurut Quraish Shihab (2007: 182-187), sebagaimana dikutip Rivauzi (2015: 298-301), menjelaskan secara gamblang banyak ayat al-Quran dan Hadits yang mengisyaratkan akan pentingnya pemeliharaan kesehatan jasmani.
1.    Anjuran pencegahan penyakit
Rasulullah menegur beberapa sahabat yang bermaksud melampaui batas ibadah dengan mengabaikan kesehatan jasmaniyahnya.
إن لجسد ك عليك حقا (رواه البخاري)
Sesungguhnya badanmu memiliki hak atas dirimu (Buhari)
Hadits di atas selaras dengan prinsip yang diletakkan oleh literatur agama sebagai berikut:
الوقاية خير من العلاج
Pencegahan jauh lebih baik dari pada mengobati
Allah juga berfirman,
... إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
.... Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. (QS. Al-Baqarah, 2: 222)
Dalam penjelasan ayat di atas dapat dipahami bahwa Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci. Bertaubat bertujuan untuk kesehatan ruhani dan bersuci bertujuan untuk kesehatan jasmani. Rasulullah saw juga bersabda sebagaimana ditulis Quraish Shihab (2007: 184)
الإيمان بضع وسبعون شعبة أعلاها قول لااله الا الله وأدناها إماطةالأذى عن الطريق (رواه البخاري ومسلم عن ابي هريرة)
Iman terdiri dari tujuh puluh sekian cabang, puncaknya adalah keyakinan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan yang terendah adalah menyingkirkan hal-hal yang dapat menyakiti dari jalanan. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah)
Rasulullah juga memerintahkan untuk menutup hidangan, mencuci tangan, bersikat gigi, larangan bernafas sambil minum, tidak kencing pada air yang mengalir atau di bawah pohon, dan lain sebagainya yang merupakan bentuk-bentuk pencegahan yang diingatkan oleh Rasulullah agar umat Islam tidak terjangkiti atau terpelihara dari penyakit.
Allah dan rasulnya juga mengingatkan untuk memelihara kesehatan perut agar tidak diisi dengan berlebih-lebihan.
... وكُلُواْ وَاشْرَبُواْ وَلاَ تُسْرِفُواْ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
...makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.(QS. Al-A’raf, 7: 31)
ما ملأ آدمي وعاء شرا من بطن بحسب ابن آدم أكلات يقمن صلبه فان كان لا محالة فثلث لطعامه وثلث لشرابه وثلث لنفسه (رواه الترمذي )
Tidak ada sesuatu yang dipenuhkan oleh anak cucu Adam lebi buruk dari pada perut. Cukuplah bagi anak cucu Adam beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Kalaupun harus dipenuhkan, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk bernafas (HR Tarmizi)
Alexis Carel mengatakan sebagaimana dikutip Quraish Shihab (2007: 185), bahwa makanan berdampak kepada perasaan, kondisi psikis seseorang akan sangat dipengaruhi oleh sesuatu yang dimakan atau yang dimunumnya. Hal ini juga terisyarat dalam firman Allah yang mengatakan bahwa darah yang mengalir, daging babi dilarang untuk dimakan karena hal itu termasuk rijs (kotor). Para ulama tafsir menjelaskan bahwa rijs adalah keburukan budi pekerti atau kebobrokan mental (Ahmad Rivauzi, 2015: 300).  Allah berfirman:
قُل لاَّ أَجِدُ فِي مَا أُوْحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّماً عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلاَّ أَن يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَماً مَّسْفُوحاً أَوْ لَحْمَ خِنزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقاً أُهِلَّ لِغَيْرِ اللّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi --karena sesungguhnya semua itu kotor-- atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-An’am, 6: 145)
2.    Perintah berobat jika sakit
Rasulullah saw., juga memerintahkan kepada umat Islam untuk berobat jika mendapat ujian dari Allah berupa penyakit.
تداووا فإ ن الله لم ينزل داء إلا أنزل معه دواء غير داء واحد وهو الهرم (رواه ابو داود و الترمذي عن اسامة بن شريك)
Berobatlah, karena Allah tidak menurunkan suatu penyakit kecuali diturunkan pula obatnya. Kecuali penyakit ketuaan (HR. Abu Daud dan Tarmizi dari Usamah bin Syuraik)
B.  Pandangan Islam tentang Kesehatan Mental (Ruhani)
Menurut Quraish Shihab (2007: 189), dalam al-Quran tidak kurang dari sebelas kali disebut istilah fi qulubihim maradh (dalam hati mereka ada penyakit). Secara rinci Ibn Faris mendefinisikan kata maradh sebagai segala sesuatu yang mengakibatkan manusia melampaui batas keseimbangan/kewajaran dan berdampak kepada terganggunya fisik, mental, bahkan kepada tidak sempurnanya amal seseorang (Ahmad Rivauzi, 2015: 301).
Berdasarkan keterangan di atas, maka kesehatan mental ruhani merupakan kesehatan hati dan yang dimaksudkan dengan hati di sini adalah ruhani seseorang (Ahmad Rivauzi, 2015: 301). Al-Quran menggambarkan bahwa orang-orang yang beruntung adalah orang-orang yang hatinya sehat.
يَوْمَ لَا يَنفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ , إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
 (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS Asy-Syu’ara’, 26: 88-89)
Al-Quran juga menunjukkan cara agar ruhani seseorang sehat dan hidup dalam kedamaian.
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
 (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (QS. Al-Ra’d, 13: 28)
Berdasarkan keterangan di atas, maka ibadah dan memperbanyak zikir kepada Allah adalah merupakan cara untuk menjaga dan mengobati hati (mental) yang sakit atau ruhani yang dihinggapi berbagai penyakit.
C.  Pengobatan Melalui Terapi Ruhani dalam Islam
Sebuah hasil riset mengungkapkan, bahwa bibit penyakit dimulai dari ruh bukan dari jasad. Oleh sebab itu, pengobatan yang ampuh harus dimulai dari ruh, baru setelah itu diarahkan pada penyakit yang bersarang di tubuh. Abdul Basith Muhammad as-Sayyid (2008: 16) mengungkapkan terapi spiritual sebagai langkah awal untuk penyembuhan penyakit. Menurutnya, tubuh manusia terdiri dari air. Air memiliki sesnsitifitas untuk membangkitkan berbagai kekuatan berskala besar. Penelitian para ilmuan terhadap air mengungkapkan, bahwa air yang dibacakan ayat-ayat Allah memiliki sifat-sifat baru yang berbeda dengan benda cair lainnya. Hal ini merupakan salah satu bukti, bahwa kekuatan spiritual seseorang yang membacakan ayat-ayat Allah pada air memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan sifat air dan dapat dipakai untuk mengobati seseorang (Ahmad Rivauzi, 2015: 302).
Adnan Syarif (2002:205), seorang ahli kedokteran ahli jiwa, menyatakan sebagaimana dikutib Mujib (2006: 141),  bahwa ruh merupakan kunci rasa sakit. Kesakitan seseorang bukan semata-mata disebabkan tubuhnya, melainkan karena ruh. Seseorang yang mampu menguasai ruhnya, maka jasadnya menjadi sehat (Ahmad Rivauzi, 2015: 302).
As-Sayyid (2008: 17-20) sebagaimana dikuti Ahmad Rivauzi (2015: 302-304), menjelaskan bahwa terdapat beberapa syarat yang harus diperhatikan oleh seseorang yang sedang menjalani proses pengobatan.
1.    Dalam kondisi normal, setiap orang pada dasarnya dapat melakukan pengobatan sendiri.
            Utsman bin Abi al-‘Ash berkata, “Rasulullah pernah menjengukku saat aku sakit keras. Nabi berkata, “Usapkanlah tanganmu sebanyak tujuh kali ke tempat yang sakit sambil mengucapkan:
أعوذ بعزّة الله وقدرته وسلطانه من شرما أجد
     Aku berlindung kepada keagungan Allah, kekuasaan-Nya dan kemuliaan-Nya dari sakit yang aku rasakan. Aku melakukannya, dan akhirnya Allah menyembuhkan penyakitku. Aku selalu memerintahkan keluargaku dan orang lain untuk melakukan ini (HR. Tirmizi) (Rauf Abid, 1971: 696)
2.    Harus memiliki keinginan dan keyakinan untuk sembuh.
            Sebuah hasil penelitian George Mike menunjukkan bahwa kegagalan pengobatan lebih disebabkan oleh karena tidak adanya keinginan sembuh dari pasien. Orang yang memiliki keinginan dan keyakinan kuat untuk sembuh, memberikan dimensi baru untuk kesembuhan. Keyakinan ini harus dimiliki oleh orang yang membantu pengobatan dan orang yang sakit
3.    Kesucian hati orang yang mengobati dan orang yang sakit serta ikhlas dan yakin bahwa kesembuhan hanya datang dari Allah.

Al-Qadhi Badruddin Asy-Syibli menulis: Ali Akhbari berkata, “Saya berada di Masjid Abu Abdillah Ahmad ibn Hanbal. Mutawakkil mengutus pelayannya untuk menyampaikan pesan kepada Imam Ahmad, bahwa budak perempuannya kerasukan jin. Dia minta bantuan Imam Ahmad untuk mengobati budaknya. Pelayan tersebut mengambilkan sandal Imam Ahmad untuk berwudhuk. Imam Ahmad berkata kepada pelayan itu, ”pergilah ke kediaman Amirul Mukminin dan duduklah di hadapan sang budak. Katakan kepada jin yang merasuki, ‘Imam Ahmad berpesan kepadamu. Mana yang kau suka: keluar dari budak perempuan ini atau ditampar dengan sandal ini tujuh puluh kali? Jin Ifrit berkata lewat mulut sang budak, ‘Aku patuh dan taat. Jika Imam Ahmad memerintahkanku untuk tidak tinggal di negeri Irak, aku akan mematuhinya. Jin itupun keluar dari tubuh sang budak. Budak itu sembuh hingga memiliki beberapa orang anak. Setelah Imam Ahmad bin Hanbal meninggal, jin itu kembali merasuki sang budak. Mutawakkil mengadukan keadaan budaknya kepada Abu Bakar al-Marwazi. Segera al-Marwazi mengambil sandal lantas pergi menjumpai budak itu. Abu Bakar al-Marwazi berkata, ‘ Keluarlah kau atau aku akan memukulmu!” Jin menjawab lewat mult sang budak, ‘Aku tidak mau keluar dari budak ini dan aku tidak akan patuh kepadamu’. Imam Ahmad bin Hanbal adalah orang yang taat dan ikhlas kepada Allah. Sehingga segala sesuatu akan patuh padanya (Abdul Basith Muhammad as-Sayyid, 2008: 20).
-------------------------------------------------------------
Sumber: Ahmad Rivauzi, Wawasan Studi Keislaman; Memahami Universalitas Islam untuk Mendidik Pribadi dan Masyarakat yang Berkarakter Rahmatan li al-‘Alamin, (Ciputat: Sakata Cendikia, 2015) Cet I

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar