Jumat, 01 Mei 2015

Islam dan Ilmu Pengetahuan

 Islam dan Ilmu Pengetahuan
Oleh: Dr. Ahmad Rivauzi, MA
Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dalam Islam dapat dikethaui pada ayat pertama yang diterima Nabi Muhammad saw.
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ , خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ , اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ , الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ , عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-‘alaq, 96:1-5)  
Menurut Quraish Shihab (2007: 433), kata iqra’ terambil dari akar kata  yang berarti menghimpun. Dari makna menghimpun lahir aneka makna seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, membaca yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Ayat pertama turun di atas mengandung makna bahwa objek yang harus dibaca tidak dibatasi. Semuanya diperintah untuk dibaca selama bacaan tersebut memberikan mamfaat untuk kemanusiaa. Pada ayat di atas juga terkandung makna bahwa membaca dianjurkan dilakukan secara berulang-ulang sebagaimana terdapat pengulangan pada perintah membaca pada suart tersebut. Pada surat tersebut juga terisyarat bahwa terdapat dua cara perolehan dan pengembangan ilmu. Pertama, yaitu Allah mengajar dengan pena (perolehan ilmu melalui alat-alat dan usaha manusia). Kedua, perolehan ilmu pengetahuan tanpa alat dan usaha manusia (ilham, intuisi, wahyu dll) (Ahmad Rivauzi, 2015: 306).
Menurut Quraish Shihab (2007:436), kata ilmu dengan berbagai gubahan bentuknya dalam al-Quran terulang sebanyak 854 kali pengulangan. Secara bahasa ilmu berarti kejelasan. Dengan demikian ilmu adalah pengetahuan yang jelas tentang sesuatu. Berdasarkan ayat-ayat al-Quran, maka objek ilmu dalam Islam terbagi kepada dua yaitu objek materi dan objek non materi ( Ahmad Rivauzi, 2015: 306).
Islam sangat mementingkan ilmu dan pengetahuan. Bahkan al-Quran menggambarkan bahwa Allah memberikan ketinggian derajat kepada orang-orang yang beriman dan berilmu. Allah juga menggambarkan bahwa hanya orang-orang yang berilmu yang memiliki rasa kekaguman kepada kebesaran dan keagungan Allah:
...يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
...niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mijadilah, 58:11)
... إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
... Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun. (QS. Fathir, 35:28)
Islam mendorong umatnya untuk selalu mencari ilmu pengetahuan dan kemudian mengembangkannya. Di dalam al-Quran sangat sangat banyak ayat yang mendorong umat Islam untuk menghidupkan budaya ilmiyah karena kebahagiaan serta kebaikan hidup di dunia dan akhirat sangat bergantung kepada kehidupan budaya ilmiyah ini (Ahmad Rivauzi, 2015: 307).
Di indonesia, penggunaan istilah “ilmiah” kadang cukup membingungkan. Jika ada sebuah pengetahuan diungkap atau ditulis seseorang, sering muncul pertanyaan: apakah pengetahuan ini atau karya ini, karya atau pengetahuan ilmiah atau tidak? Karya ini berbasis riset atau tidak? Dan pertanyaan-pertanyan sejenis lainnya. Tidak jarang dan tidak sedikit pertanyaan tersebut memicu pertentangan pendapat di kalangan akademisi yang masing-masing bersitegang dengan pemahaman masing-masing yang dianggapnya paling benar (Ahmad Rivauzi, 2015: 307).
Istilah “ilmiah” itu sendiri sesungguhnya terambil dari bahasa Arab, bukan terambil dari bahasa inggris, bukan pula dari bahasa Jerman, Belanda dan lainnya. Dalam bahasa Inggris misalnya dikenal dua istilah yaitu “science” dan “knowledge”. Dua istilah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan pengertian ilmu dan pengetahuan. Science itu sendiri dibatasi pengertiannya kepada pengetahuan yang diperoleh dari hasil kajian atau penelitian yang didasarkan kepada prinsip dan metode saintifik. Metode saintifik mensyaratkan bahwa pengetahuan tersebut harus dibuktikan kebenarannya secara logis dan didukung oleh data serta fakta empiris. Sedangkan knowledge tidak menghendaki hal tersebut (Ahmad Rivauzi, 2015: 307).
Sementara itu, di dalam kebudayaan Arab, istilah “ilmiah” atau “ilmu” memiliki makna yang luas, tercakup di dalamnya science dan non science. Hans Wehr dalam Abuddin Nata (2011: 363) menjelaskan bahwa kata ‘ilmu dalam bahasa Arab memiliki beberapa pengertian, antara lain knowledge (pengetahuan), learning (pengajaran), lore (adat dan pengetahuan), cognizance (pengetahuan), acquaintance (kenalan), information (pemberitaan), cognition (kesadaran), intelection (kepandaian), dan perception (pendapat). Jamak dari ‘ilm adalah ‘ulum yang juga dapat berarti science dan natural science (ilmu alam) (Ahmad Rivauzi, 2015: 308).
Menurut ‘Abd al-Hamid Hakim (tt: 7) sebagaimana dikutip Ahmad Rivauzi (2015: 308) menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan ilmu adalah:
العلم هو صفةٌ يَنْكَشِفُ بها المطلوب إنكشافا تامًّا
Ilmu adalah suatu sifat yang yang mengungkapkan tentang suatu objek dengan pengungkapan yang sempurna.
Dalam bahasa Indonesia, “‘ilmu” diartikan dengan pengetahuan atau kepandaian (baik yang berkenaan dengan segala jenis pengetahuan kebatinan maupun yang berkenaan dengan alam dan sebagainya. Sedangkan pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui (W.J.S. Poerwadarminta, 1991: 373 dan 731)
Al-Raghib al-Asfahani (tt: 355) menjelaskan bahwa yang dikatakan ilmu adalah:
إدراك الشيء بحقيقته وذالك ضربان أحدهما إدراك ذات الشيء والثاني الحكم على شيء هو موجود له أو نفي شيء هو منفي عنه
Ilmu adalah mengetahui sesuatu sampai kepada hakikatnya, dan ia terbagi kepada dua. Pertama, mengetahui sesuatu, dan yang kedua mengetahui sesuatu dengan kepastian ada dan tiadanya.
Abuddin Nata (2011: 365) mengutip pendapat Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani yang mengatakan bahwa ilmu atau pengetahuan adalah segala sesuatu yang dicapai atau didapatkan lewat panca indera, akal manusia, atau diperoleh melalui intuisi dan ilham (Ahmad Rivauzi, 2015: 309).
Dari pengertian di atas, maka ilmu sesungguhnya memiliki makna yang luas yang meliputi pengetahuan fisika (science) atau metafisika. Lain halnya dengan Ahmad Tafsir (2004: 5-14), yang memandang bahwa ilmu sama dengan sains. Pendapat Ahmad Tafsir ini memiliki kelemahan karena kata “ilmu” itu sendiri jika diterjemahkan berarti “pengetahuan”. Ahmad Tafsir membuat tabel yang menggambarkan matriks pengetahuan sebagai berikut:

Macam Pengetahuan
Objek
Cara Mengetahui
Paradigma
Potensi
Metode
Kriteria/ Ukuran Kebenaran
Sains (ilmu)
Empiris
Riset
Sains
Akal dan Indera
Sains
Logis dan Empiris
Filsafat
Abstrak
Berfikir Logis
Logis
Akal
Logis
Logis
Mistik
Abstrak Supralogis
Riyadhah Hati
Mistik
Hati/ Rasa
Mistik
Keyakinan Rasa/ Pengalaman Batin
Terlepas dari pandangan Ahmad Tafsir di atas, jika merujuk kepada penggunaan kata ilmu dalam Islam, maka akan ditemui keluasan cakupan dari ilmu tersebut.
Ahmad Rivauzi (2015: 310) menjelaskan  matriks ilmu menurut Islam.

Macam Ilmu
Objek
Cara Mengetahui
Paradigma
Potensi
Metode
Kriteria/ Ukuran Kebenaran
Ilmu Sains
Ayat Kauniah
Iqra’ melalui Riset
Sains
Akal dan Indera
Sains
Logis dan Empiris
Ilmu Filsafat
Ayat Qauliyah (Quran/Hadits) dan ayat Kauniyah
Iqra’ melalui Berfikir Logis
Logis
Akal
Logis
Logis
Ilmu Mistik/ Tashawwuf
Ayat Qauliyah
Dan Dunia Ruhani
Iqra’ melalui Riyadhah Hati
Mistik
Hati/ Rasa
Intuisi, Wahyu/ ilham.
Keyakinan Rasa/ Pengalaman Batin
Matriks ilmu di atas agaknya lebih sesuai dengan isyarat Islam dalam al-Quran dan Hadits Rasulullah Saw. dan pengertian-pengertian yang dijelaskan oleh ulama yang berkembang di dunia Islam. Karena dalam bahasa Arab, kata “pengetahuan” tidak ditemukan, dan bahkan pengetahuan itu sendiri merupakan terjemahan dari kata “ilmu” itu sendiri (Ahmad Rivauzi, 2015: 310).
Dalam perspektif Islam, semua jenis ilmu pengetahuan diyakini sebagai anugerah dan berasal dari Allah. Tidak ada manusia yang membuat ilmu. Manusia Cuma menemukan atau memperoleh. Jenis ilmu science, mengkaji alam semesta yang kemudian dikelompokkan kepada ilmu pengetahuan tentang ayat-ayat kauniyah. Sementara ilmu al-diniyyah (ilmu agama) yang sumbernya al-Qur’an dan Sunnah Nabi, disebut sebagai kelompok ilmu pengetahuan tentang ayat-ayat qauliyah yang diperoleh melalui pengindraan terhadap ayat qauliyah, olah akal, dan olah hati dan intusi (Ahmad Rivauzi, 2015: 310)
Menurut Abuddin Nata (2011: 367), Al-Qur’an sebagai ayat-ayat qauliyah juga memotivasi umat Islam untuk memahami ayat-ayat kauniyah tersebut. Hal itu dapat dilihat dari besarnya perhatian al-Qur’an terhadap ilmu pengetahuan. Bahkan, kata ilmu dalam berbagai bentuknya tidak kurang dari 854 kali disebut dalam al-Quran Al-Quran memuat ayat yang berbicara tentang ilmu atau keharusan mencari ilmu, termasuk ilmu-ilmu sience tersebut.  Sehingga pakar-pakar ke-Islaman berpendapat bahwa ilmu menurut al-Quran mencakup segala macam pengetahuan yang berguna bagi manusia dalam kehidupannya, baik masa kini maupun masa depan; fisika atau metafisika (Ahmad Rivauzi, 2015: 311).
Abuddin Nata (2005: 81-82) menjelaskan bahwa ayat-ayat al-Quran memuat perintah yang terkait dengan perintah menggunakan akal (la’allakum ta’qilun) dan perintah merenungkan tanda-tanda kekuasaan Allah (yatadabbarun)  yang melahirkan ilmu filsafat dan ilmu hikmah bahkan ilmu ruhaniah (spiritual), perintah memperhatikan jagad raya (afala yanzhurun) melahirkan ilmu science, perintah mendalami dan memahami ajaran agama (yatafaqqahun) melahirkan ilmi agama atau ilmu al-diniyyah, yang semuanya merupakan kegiatan dari aktivitas ilmiyah  (iqra’) yang  secara keseluruhan berkaitan dengan aktivitas mengembangkan ilmu pengetahuan. Seluruh istilah tersebut dapat dipergunakan sesuai dengan bidang ilmu yang akan dikembangkannya. Dengan demikian munculnya berbagai istilah yang amat beragam dalam al-Qur’an menunjukkan adanya keragaman dalam ilmu pengetahuan. Hal ini sekaligus memberi isyarat bahwa al-Qur’an mengakui eksistensi dan fungsi dari berbagai macam ilmu pengetahuan tersebut dalam kehidupan umat manusia ( Ahmad Rivauzi, 2015: 311).
Berdasarkan keterangan di atas, maka kata “ilmiah” seharusnya tidak Cuma dimaksudkan untuk hal-hal yang bersifat science, tetapi juga meliputi non science seperti filsafat dan mistik. Menarik untuk dikutip perkataan Mulyadi Kartanegara (2005: 30) yang dikutip Abuddin Nata (2011: 366). Mulyadi mengungkapkan bahwa sains modern sangat bias dengan paradigma positivisnya dan sering menganggap tidak objektif terhadap seluruh pengalaman manusia selain pengalaman indrawi. Pandangan positivistik menilai bahwa pengalaman intelektual, intuitif, mistik, dan religius adalah sangat rentan terhadap subjektivitas dan sulit untuk dapat mencapai tingkat objektivitas yang layak untuk diperhitungkan sebagai data-data yang bersifat ilmiah. Manusia positivistik melupakan bahwa pengalaman indrawi yang mereka anggap objektif sesungguhnya tidak kalah subjektifnya dibandingkan dengan lainnya seperti mimpi, pengalaman mistik, religius dan lainnya yang sesungguhnya juga memiliki basis ontologis yang kuat, walaupun memiliki perbedaan wujud dan karakternya dengan dunia fisika (Ahmad Rivauzi, 2015: 311-312).
Dengan demikian, dalam konteks apakah suatu pengetahuan itu didukung oleh data-data empiris atau tidak, menenggunakan metode saintifik atau tidak dan lain sebagainya, maka pertanyaan yang relevan adalah  “apakah pengetahuan itu saintis atau tidak”. Tetapi jika pertanyaannya diungkapkan dengan ungkapan ”apakah pengetahuan ini ilmiah atau tidak” maka jawabannya tentu ilmiyah karena semua pengetahuan sesungguhnya ilmiah. Semua ilmu atau pengetahuan, apakah filsafat, mistik dan pengetahuan ke-agamaan pada umumnya, telah melalui tahapan, langkah dan metodenya sendiri-sendiri sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ilmu atau pengetahun sains memiliki metodenya sendiri, ilmu filsafat memiliki metodenya sendiri dan ilmu mistik memiliki metodenya sendiri (Ahmad Rivauzi, 2015: 312).


Kepustakaan

Abuddin Nata, Studi Islam Komprehensif, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011, Cet I.
Ahmad Rivauzi, Wawasan Studi Keislaman; Memahami Universalitas Islam untuk Mendidik Pribadi dan Masyarakat yang Berkarakter Rahmatan li al-‘Alamin, (Ciputat: Sakata Cendikia, 2015) Cet I
Abuddin Nata, Pendidikan dalam Perspektif al-Quran, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005) cet. I
Abuddin Nata, Pendidikan dalam Perspektif Hadits, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2005) cet. I
Abuddin Nata,Studi Islam Komprehensif, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2011, Cet I.
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran, Bandung: Mizan, 2006, Cet. XXIX
M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat, Bandung: Mizan, 2007, cet. XVIII
M. Quraish Shihab, Lentera al-Quran, Kisah dan Hikmah Kehidupan, Bandung:Mizan, 2013 Edisi II, Cet. 1.,
Munawir Sjadzali, Islam dan Tata Negara; Ajaran, Sejarah dan Pemikiran , (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1991), Cet. III

W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1991

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar