Senin, 14 Januari 2013

Struktur Ruh atau Nafs


Struktur Ruh atau Nafs
Oleh:  Dr. Ahmad Rivauzi, MA
Ruh atau nafs memiliki elemen atau komponen berupa daya-daya atau potensi. Daya-daya tersebut adalah daya qalbu, ‘aqal’ dan hawa nafs
1.        Qalbu
Qalbu dengan segala bentuknya (tunggal, dua, atau jama’) diungkap al-Quran sebanyak 132 kali dalam 126 surat. Jumlah ini tidak termasuk dalam bentuk kata kerjanya (fi’il). [1]
Al-Gazhali melihat qalbu dari dua aspek. Pertama aspek jasmani atau disebut juga qalbu jasmani. Yang dimaksud di sini adalah daging yang berbentuk seperti jantung pisang yang terletak di dalam dada sebeleh kiri. Kedua, qalbu ruhani, yaitu sesuatu yang halus (lathif), rabbani, dan ruhani. Qalbu dalam pengertian ini merupakan esensi manusia.[2]
Qalbu jasmani merupakan jantung (heart) yang menjadi pusat jasmani manusia. Ia berfungsi sebagai pusat peredaran dan pengaturan darah. Jika fungsi ini berhenti, maka ajal (batas) hidup manusia habis dan terjadilah kematian. Qalbu jasmani tidak Cuma dimiliki manusia, tetapi dimiliki oleh semua makhluk bernyawa seperti binatang. Sedangkan qalbu dalam pengertian ruhani hanya dimiliki oleh manusia, yang menjadi pusat kepribadiannya. Namun demikian, qalbu jasmani dan qalbu ruhani memiliki keterkaitan. Apabila kondisi kejiwaan seseorang normal, senang, gembira atau bersedih, maka frekuensi denyutnya akan terpengaruh.[3]
Qalbu memiliki karakteristik khusus yaitu ia memiliki kecendrungan dan kemampuan yang disebut dengan cahaya ketuhanan (nur al-Ilahi) dan mata batin (al-bashirah al-bathiniyyah) yang memancarkan keimanan dan keyakinan.[4] Qalbu bersifat fitrah yang memiliki kecendrungan untuk menerima kebenaran dari Allah karena ia disebut juga memiliki natur ilahiyyah yang merupakan aspek supra-kesadaran manusia yang dipancarkan dari Tuhan.[5]
Al-Thabathaba’i menjelaskan bahwa fungsi qalbu memiliki daya emosi; cinta, senang, benci, sedih, dan ingkar. Disamping daya emosi, qalbu juga memiliki daya kognisi yang bersifat halus dan rabbani yang mampu mencapai hakikat sesuatu. Qalbu dapat mencapai pengetahuan (ma’rifah) melalui daya cita rasa (al-dzawqiyyah)[6] dan intuisi (al-hadsiyyah)[7]. Qalbu mencapai puncak pengetahuan apabila manusia menyucikan dirinya (tazkiyat al-nafs), sehingga ia dapat memperoleh ilham dan kasyaf (terbukanya hijab yang mendinding qalbu. Qusyairi mengatakan bahwa pengetahuan qalbiyah jauh lebih luas dan dalam ketimbang pengetahuan aqliyyah. Aqal tidak dapat mengetahui hakikat Tuhan, sedangkan qalbu dapat mengetahui hakikat yang ada.[8]
Hasil capaian kebenaran yang menurut akal sehat dipandang tidak masuk akal, tidak tepat disebut irasional. Hal ini lebih tepat disebut sebagai sesuatu yang transenden atau supra-rasional (supra-kesadaran). Capaian kebenaran yang dimaksud seperti hal-hal yang berhubungan dengan keyakian (al-i’tiqadiyyah), hidayah, ketaqwaan, rahmah, tertangkapnya isyarat yang akan terjadi esok dan hal-hal lainnya. Seperti ditegaskan Iqbal, intuisi qalbu merupakan bentuk tertinggi dari jenis intelektual.[9]
Menurut Mujib (2006), dengan mempedomani QS. Al-Nahal [16]: 78; al-Isra’ [17]: 36; al-Mukminun [23]: 78; as-Sajadah [32]: 9 dan al-Mulk [67]: 23, fungsi dan aktivitas qalbu (al-af’al al-qalbiyyah) adalah sebagai berikut:
a.    Al-Sama’; daya qalbu yang mampu mendengar bisikan halus dan gaib atau suara hati ( al-ashwat al-qalbiyyah). Bisikan itu bisa dalam bentuk lintasan dan perintah bathiniyyah:
1)         (al-khathir). Bisikan atau lintasan tiba-tiba itu bisa datangnya dari syetan (al-khathir al-syaythani), dari manusia itu sendiri (al-khathir al-insani) yang bersumber dari suara hati manusia dan melahirkan firasat insani,  dari malaikat (al-khathir al-malaki), dan datang dari Allah langsung (al-khathir al-rabbani). Para nabi dan rasul memperolehanugrah ini melalui mu;jizat seperti wahyu, sedangkan para wali dalam bentu karamah.
2)        Al-Warid; bisikan batin berupa limpahan pengetahuan, ketajaman berfikir, dan bisikan kegembiraan atau kesedihan. Hal ini lebih tinggi dari al-khathir. Hal ini kalau tanpa diiringi rahmat Allah juga bisa menyebabkan kegaiban dan kegilaan (majnun).
3)        Al-Bawadih;bisikan batin berupa kejutan-kejutan gaib yang muncul tiba-tiba yang menimbulkan kegembiraan atau kesedihan
4)        Al-Hujum; bisikan batin secara tiba-tiba tanpa usaha. Hal ini pernah terjadi pada masa Umar ibn Khattab yang mampu melihat kondisi peperangan dari jarak jauh hingga beliau memerintahkan kaum muslimin naik bukit. Kaum muslimin mendengarkan seruan jarak jauh ini sehingga kaum muslimin memperoleh kemenangan.
b.    Al-Bashar; daya qalbu yang dapat melihat sesuatu yang gaib yang sering disebut dengan kata hati (al-a’yan al-qalb). Melalui ini al-Gazhali memahami rahasia-rahasia Tuhan (ma’rifah).
c.    Al-Fu’ad; daya qalbu yang dapat melihat kebenaran, al-Shadr; daya qalbu yang menjadi tempat merasakan kelapangan (al-insyirah) dan kesempitan (al-dhayq), al-taqallub; yang dapat berubah, al-syaghaf; daya qalbu yang merupakan tempat cinta kepada pekerti baik, al-lubb; daya qalbu yang menjadi inti relung kesadaran berupa keyakinan, kesaksian santun dan kemuliaan, habat al-qalb; tempat cinta kepada kebenaran, al-suwida’; daya qalbu tempat ilmu-ilmu agama, mahajat al-qalb; daya qalbu yang merupakan manifestasi sifat-sifat Allah atau mengkufurinya, al-Dhamir, daya qalbu tempat merasa yang mengendalikan seseorang untuk kebaikan, al-sirr; relung kesadaran paling dalam yang menjadi tempat terjadinya komunikasi dengan Allah, bayt al-hikmah; daya qalbu yang hasilkan keikhlasan, bayt al-muqaddas; daya qalbu lahir yang berhubungan dengan orang lain, bayt al-haram; daya qalbu yang menyebabkan manusia memiliki keyakinan ekslusif hanya kepada Allah, bayt al-izzah; daya qalbu yang antarkan seseorang mampu fana,dan al-afaq al-mubin; puncak tingkatan qalbu manusia.
d.   Al-Syu’ur; daya qalbu yang berfungsi untuk merasakan suatu emosi. [10]
Tipologi qalbu seseorang menurut Ibn Qayyim juga tergolong kepada beberapa kategori. Pertama, qalbu yang hidup, yaitu hati yang selamat (salim), baik (khair), dan suci (thuhur). Kedua, qalbu mayyitun, yaitu hati para pendosa yang diselimuti ketamakan, keras, dan somong serta ingkar. Ketiga, hati yang berpenyakit (qalbu al-maridh),  yaitu hati orang menemima kebenaran tapi sering mengabaikan kebenaran seperti iri, rakus dan lainya.[11] Mari simak Hadits berikut:

إنّ في الجسد مضغة إذا صَلحت صلح الجسد كله وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب
Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, maka akan baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak maka akan rusak pula seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa daging itu adalah qalbu, (HR al-Bukhari dari Nu’man ibn Basyir)

2.        Aqal

Secara etimologi, ‘aqal berarti menahan (al-imsak), ikatan (al-ribath), menahan (al-hajr), melarang (al-nahi), dan mencegah (man’u).[12] Berdasarkan makna bahasa ini maka orang yang berakal dapat dikatan orang yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya.‘Aqal juga memiliki dua makna.
a.        ‘Aqal jasmani, yaitu salah satu organ tubuh yang terletak di kepala yang biasanya disebut juga dengan otak (al-dimagh).
b.        ‘Aqal ruhani, yaitu cahaya ruhani dan daya nafsani yang dipersiapkan untuk memperoleh pengetahuan dan kognisi (al-mudrikat). [13]
‘Aqal berbeda dengan tabiat (al-thab’u) dan qalbu.Aqal mampu memperoleh pengetahuan melalui daya nalar (al-nazhar), sedangkan tabi’at memperoleh pengeahuan melalui daya naluri atau daya alamiyah (al-dharuriyyah). Aqal memperoleh pengetahuan melalui daya argumentatif (al-istidlaliyyah), sedang qalbu memperoleh pengetahuan melalui cita rasa (dzawqiyyah) dan intuisi (al-hadsiyyah). [14]
‘Aqal disebut di dalam al-Quran sebanyak 49 kali. ‘Aqal dalam al-Quran dan  sunnah diungkap hanya dalam bentuk kata kerja. Tidak pernah ditemukan dalam bentuk kata benda (isim). Dengan demikian, áqal  bukanlah suatu substansi (jawhar), melainkan aktivitas dari substansi tertentu.[15]
Para ulama ada yang menyebut bahwa ‘Aqal merupakan aktivitas qalbu sebagaimana ayat Allah, QS. Al-Hajj [22]: 46.
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ ءَاذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami (ber’aqal) atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada”.( QS. Al-Hajj [22]: 46.)
Al-Zukhaili berpandangan bahwa ‘aqal merupakan aktivitas otak. Senada dengan pendapat plato yang mengatakan bahwa jiwa rasional bertempat di kepala (otak) manusia. Ibn Miskawaih juga menyatakan bahwa jiwa berakal itu berkedudukan di otak manusia, jiwa syahwat berkedudukan di hati, sedang jiwa marah (ghadab) berkedudukan di jantung. [16]
Penulis memandang bahwa akal merupakan aktivitas nafs namun menggunakan otak jasmani. Jika nafs mengindera menggunakan qalbu, maka pandangannya bersifat ruhaniah (rasa dan intuisi), namun jika nafs mengindera melalui akal, maka penginderaannya bersifat jasmaniyah yaitu melaui media otak yang karakteristiknya adalah logika rasional. Dengan demikian, maksud ayat di atas lebih ditujukan kepada qalbu dalam pengertian tempat yang mampu menyerap cahaya iman dan nur Ilahi  dituntut untuk memfungsikan indrawi jasmani otak untuk melakukan proses ta’aqqul yang logis serta rasional.
Akal mampu mengantarkan manusia pada tingkat kesadaran, namun tidak mampu mencapai supra-kesadaran. Akal mampu berpikir dengan logika formal pada dunia sadar, tetapi tidak mampu manangkap sesuatu yang datangnya dari alam supra-kesadaran (gaib).[17] Pengetahuan yang diperoleh akal terbagi kepada dua bentuk. Pertama, pengetahuan rasional-empiris, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui bantuan indrawi. Kedua, pengetahuan rasional-idealis, yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui pemikiran sehingga pengetahuan yang dihasilkannya disebut dengan pengetahuan filsafat.[18]
Menurut al-Ghazali, ada beberapa bentuk aktivitas akal (al-af’al al-‘aqliyyah)
a.    Al-nazhar (sight atau vision); secara bahasa berarti melihat, mempertimbangkan, memperhatikan, menyawasi dan menyidik dengan pikiran. Al-nazhar lazimnya menggunkan alat bantu indra mata.
b.    Al-Tadabbur; daya akal yang memperhatikan sesuatu secara seksama dan teratur, yang mengikuti logika sebab akibat.
c.     Al-Ta’ammul (contemplation); daya akal yang mampu merenungkan sesuatu yang abstrak.
d.    Al-Istibshar (insight); daya akal yang mencapai wawasan dan pengertian yang mendalam.
e.     Al-I’tibar; daya akal yang mampu mengaikan suatu peristiwa dengan sesuatu tanda-tanda (al-‘alamah).
f.      Al-Tafkir (thinking);berpikir yang meliputi kegiatan-kegiatan:
·      Al-hifzh; menghafal
·      Al-fahm; memahami
·      Al-dhihn; mencerna secara logika
·      Al-ta’rif; mendefinisikan
·      Al-tafsir; menjelaskan
g.    Al-Tadakkur; mengingat, mengembalikan memori yang lazimnya melalui meditasi

3.        Hawa

Hawa adalah dorongan atau potensi nafsani yang memiliki dua daya yaitu: pertama,  al-ghadhab adalah daya menghindar dari segala yang membahayakan.  Al-ghadhab memiliki natur seperti halnya binatang buas (subu’iyyah) yang memiliki naluri dasar menyerang, membunuh, merusak, menyakiti, dan membuat yang lain menderita.[19] Jika hal ini dikelola, maka ia akan menjadi kekuatan yang positif. Kedua, al-syahwat; suatu daya yang berpotensi menginduksi diri dengan segala hal yang menyenangkan. Syahwat memiliki natur binatang jinak (al-bahimiyyah) seperti seks, erotisme dan lain sebagainya yang mendatangkan kenikmatan. [20] Menurut Ibn Sina, daya indra hawa nafsu ada dua, yaitu indera lahir dan indra batin melalui daya imajinasi.[21]




[1] Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,
[2] Al-Gazhali, Ihya ‘Ulum al-Din, Beirut: Dar al-Fikri, 
[3]  Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi IslaM
[4] Victor Said Basil, Manhaj al-Bahats ‘an al-Ma’rifah ‘inda al-Ghazhali, Beirut: Dar al-Kitab al-Libanoni, 
[5]  Istilah supra kesadaran (di atas kesadaran) tidak terdapat dalam kajian psikologi Barat. Dalam psikologi Barat yang dikenal Cuma istilah kesadaran dan bawah sadar atau ketidak sadaran. Dalam perspektif kaum religius, beragama dan keber-agamaan tidak semata-mata pilihan sadar manusia, tetapi juga atas hidayah Allah sehingga pencapaiannya merupakan anugrah dari Allah Swt.  Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam
[6] Dzawq  adalah cita rasa atau pengetahuan spiritual langsung. Dzawq dikatakan tahapan pertama dalam pengungkapan pengalaman rahasia Allah (tajalli). Pengalaman ini diikuti oleh mabuk spiritual (sukr). Orang-orang yang merasakan pasti dapat mengetahuinya. Tanpa secara langsung merasakan tidak akan ada pemahaman atau ma’rifah. Amatullah Amstrong, Khasanah Istilah Sufi: Kunci Memasuki Dunia Tashawuf, Terj. MS Nasrullah, judul asli “Sufi Terminology (al-Qamus al-Sufi): The Mystical Language of Islam”, Bandung: Mizan, 
[7] Dalam Grolier Enccyclopedia 2000 , intuisi diartikan senagai pengetahuan tentang konsep, kebenaran, atau pemecahan masalah , yang dicapai secara spontan, tanpa melalui tahapan-tahapan penalaran dan penyelidikan. Ia merupakan hasil dari kecakapan, kemampuan, dan simpati khusus terhadap objek. Copyright (c) 1999 Grolier Interactive Inc
[8] Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,
[9] Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, New Delhi: Kitab Bhavan, 
[10] Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,
[11] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighatsah al-Latifah, Cairo: Dar al-Fikr, 
[12] Ma’an Ziyadat, dkk., al-Mausu’at al-Falasifah al-‘Arabiyyah, (Arab: Inma’ al-‘Arabi,
[13] Abi al-Baqa’ Ayyub ibn Musa al-Husain al-Kufi,  Mu’jam fi al-Musthalah wa al-Furuq al-Lughawiyyah, (Beirut: Muassasah al-Risalah, , al-Raghib al-Ashfahani, Mu’jam Mufradat Alfaz al-Qur’an, Beirut: Dar al-Fikr, 
[14] Ma’an Ziyadat, dkk., al-Mausu’at al-Falasifah al-‘Arabiyyah, 
[15]  Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,
[16]  Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam
[17] Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam
[18] Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, i
[19] Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Maqashid al-Falasifat, editor Sulaiman Dunya, Mesir: Dar al-Ma’arif
[20] Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Maqashid al-Falasifat,  Lihat juga, Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,.,
[21] Mulyadi Kartanegara, Mozaik Khazanah Islam, Jakarta: Paramadina,   Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar