Senin, 14 Januari 2013

Struktur Manusia


Struktur Manusia
Oleh: 
Dr. Ahmad Rivauzi, MA

Struktur adalah “komposisi pengaturan bagian-bagian komponen, dan susunan suatu kompleks keseluruhan[1]. Sedangkan James P. Caplin mendefinisikan struktur dengan “satu organisasi permanen, pola atau kumpulan unsur-unsur yang bersifat relatif stabil, menetap dan abadi”.[2]
Berdasarkan pengertian di atas, maka struktur manusia dapat diartikan dengan kumpulan komponen-komponen yang terorganisir sehingga menjadi satu kesatuan yang kemudian disebut dengan manusia.
Abdul Mujib mengutip Khayr al-Din al-Zarkali menyebut tiga struktur manusia, yaitu pisik, psikis dan psikofisik. Hal tersebut disebut dalam terminologi Islam dengan al-jasad, al-ruh, dan al-Nafs. Jasad merupakan aspek biologis atau fisik manusia, ruh merupakan aspek psikologis atau psikis, dan nafs merupakan aspek psikofisik manusia yang merupakan sinergi jasad dan ruh.[3] Kalangan ulama lain pada umumnya menyebut struktur manusia terdiri dari dua aspek, yaitu jasad dan ruh.[4]
Penulis lebih cenderung pada pendapat kedua yang memandang struktur manusia dikelompokkan kepada dua, yaitu jasad dan ruh. Ruh dalam buku ini dipandang sama dengan al-nafs karena penulis memandang substansinya hakikinya sama. Berikut dijelaskan dua struktur manusia tersebut.
1.    Jasad atau Jisim serta Penciptaannya
Dilihat dari tinjauan penciptaan, al-Quran memberikan penjelasan tentang dari apa dan bagaimana tahapan penciptaannya. Jika ditinjau dari aspek penciptaan jasmani, al-Quran menyebut beberapa istilah tentang asal kejadian manusia.
a.    تُرَابٍ (tanah). QS. Al-Kahfi [18]: 37
قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا
Kawannya (yang mu'min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: "Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?
b.     طِينٍ (tanah) QS. As-Sajadah [32]: 7
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah.
c.    طِينٍ لَازِبٍ (tanah liat) QS. Ash-Shaffat [37]: 11
فَاسْتَفْتِهِمْ أَهُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمْ مَنْ خَلَقْنَا إِنَّا خَلَقْنَاهُمْ مِنْ طِينٍ لَازِبٍ
“Maka tanyakanlah kepada mereka (musyrik Mekah): "Apakah mereka yang lebih kukuh kejadiannya ataukah apa yang telah Kami ciptakan itu?" Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat.
d.   صَلْصَالٍ كَالْفَخَّار ( tanah karing seperti tembikar) QS.Ar-Rahman [55]: 14
خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ كَالْفَخَّارِ
“Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar”.
e.    صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ (tanah kering dari lumpur hitam yang diberi bentuk. QS.al-Hijir [15]:26
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ صَلْصَالٍ مِنْ حَمَإٍ مَسْنُونٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah meciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.”
f.     الْمَاءِ (air) QS. Al-Furqan [25]: 54
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا
“Dan Dia (pula) yang menciptakan manusia dari air, lalu Dia jadikan manusia itu (punya) keturunan dan mushaharah dan adalah Tuhanmu Maha Kuasa”.
g.    مَاءٍ دَافِقٍ  (air yang terpancar) QS.Ath-Thariq [86]: 5-6
فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ مِمَّ خُلِقَ , خُلِقَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ
“Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan? Dia diciptakan dari air yang terpancar”.
h.   سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ (saripati dari tanah) QS al-Mukminun [23]:12.
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah”.
Jika diperhatikan keterangan ayat diatas dapat dipahami bahwa keterangan al-Quran yang menyebut manusia berasal dari tanah dan air lebih ditujukan kepada penciptaan wujud jasmani Adam sebagai manusia pertama. Sedangkan wujud jasmani anak cucunya diciptakan dari saripati yang berasal dari tanah atau air yang dipancarkan yang kemudian disebut dengan air mani.
Tahapan penciptaan anak cucu Adam dapat ditemukan pada QS. Al-Mukminun [23]:13-14
ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَكِينٍ , ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنْشَأْنَاهُ خَلْقًا ءَاخَرَ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
Nuthfah adalah air yang sudah bercampur (hasil pembuahan dari spermatozoa dan ovum) yang berada di dalam rahim. Proses selanjutnya adalah menjadi ‘alaqah yang berarti segumpal darah atau sesuatu yang tergantung menempel pada dinding rahim. Setelah itu, Allah jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Allah jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu dibungkus dengan daging. Kemudian Allah jadikan dia makhluk yang berbentuk sempurna.[5]
Struktur jasad atau jasmani memiliki gharizah atau daya hidup yang mengembangkan proses fisiknya yang disebut al-hayah. Hayah adalah daya, tenaga, energi atau vitalitas hidup manusia yang karenanya manusia hidup. Aspek ini sangat bergantung pada susunan sel, fungsi kelenjar, alat pencernaan, susunan syaraf sentral dan sebagainya. Adanya daya hidup atau hayah pada diri manusia sudah ada sejak adanya sel-sel seks pria (sperma) dan wanita (ovum). Sel-sel ini hidup dan kehidupannya mampu menjalin hubungan gingga terjadilah pembuahan (embrio). Dengan demikianm, maka nyawa (al-hayah) berbeda dengan ruh. [6]
Hayah sudah ada semenjak adanya sel-sel seks, sedangkan ruh ada atau baru ditiupkan setelah embrio berumur empat bulan dalam kandungan. Nyawa (al-hayah) dimiliki oleh tumbuhan, hewan dan manusia. Sedangkan ruh Cuma dimiliki oleh manusia. Kematian al-hayat tidak berati kematian al-ruh sebab al-ruh selalu hidup sebelum dan sesudah adanya hayat jasad. Ruh bersifat substantif (jawhar), sedang nyawa merupakan sesuatu yang baru datangnya (‘aradh) bersamaan adanya tubuh. Daya hidup pada jasad manusia memiliki batas, batas itu disebut dengan ajal. Apabila batas energi itu sudah habis, atau rusak yang parah, maka akan terjadi kematian. [7] Sebagaimana firman Allah, QS. Al-Munafiqun [63]: 11.
وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
2.    Ruh atau al-Nafs
Kata ruh disebutkan dalam al-Quran sebanyak 21 kali, sedangkan kata al-nafs disebutkan dalam al-Quran dalam bentuk tunggal sebanyak 116 kali dan dalam bentuk jamak sebanyak 155 kali.
Berbicara tentang ruh, al-Quran menjelaskan sebagaimana firman Allah pada QS. Al-Isra’[17]: 85
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلً
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit".
Dalam ayat di atas tergambar bahwa pemahaman hakikat ruh merupakan misteri sehingga dikatakan sebagai urusan Tuhan. Ruh bukan sesuatu yang material.
Ruh merupakan al-qudrah al-Ilahiyyah (daya ketuhanan) yang tercipta dari alam perintah (al-amar), sehingga sifatnya beda dengan jasad. Ruh dikatakan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, dia mampu beraktifitas diluar jasad dengan izin Allah seperti ketika orang tidur dan masuk kembali seketika orang terbangun dari tidurnya. Ruh sudah ada sebelum tubuh atau jasad ada. Kematian jasad tidak berarti matinya ruh. Ruh ditiupkan kepada jasad ketika jasad tersebut sudah siap untuk menerimanya. Menurut hadits Nabi, bahwa kesiapan itu ketiaka manusia berusia empat bulan dalam kandungan ibu dan pada sa’at itulah ruh berubah sifat dan nama menjadi al-nafs[8]. Hadits tersebut adalah:
إنّ أحدكم يُجمَعُ خَلقُه في بَطْنِ أمِّه أربعين يوما ثم يكون علقةً مثلَ ذالك ثم يكون مضغة مثلَ ذالك ثم يَبْعَثُ اللهُ ملكاً فيُؤْمَرُ بأَربع كلمات ويُقال له أكْتب عَملَه ورزقَه وأجَلَهُ وشَقِيُّ أو سعيدٌ ثم يُنْفَخُ فيه الروح ( البخار واحمد )
“Sesungguhnya seseorang di antara kalian diciptakan dalam perut ibunya empat puluh hari dalam bentuk nuthfah, lalu empat puluh hari menjadi ‘alaqah, empat puluh hari mudhghah. Kemudian Allah menyuruh malaikat untuk menulis empat perkara, yaitu amal, rezeki, ajal dan celaka bahagianya, kemudia ruh ditiupkan ke padanya (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)
Muncul pertanyaan, apa yang terjadi di sa’at seseorang pada saat tidurnya? Al-Gazhali menjelaskan, “tidur merupakan tertahannya ruh dari dunia lahir untuk menuju dunia batin”.[9] Aktivitas batin ini yang disebut dengan mimpi. Yang membedakan kondisi tidur dengan kondisi seseorang mati adalah; ketika tidur, jasad manusia istirahat dan ruhnya tetap tertahan namun mampu beraktifitas melampau dimensi jasadnya. Kemampuan ini disebabkan karena ruh memiliki natur ruhaniah yang multidimensi dan tidak terbatasi ruang dan waktu. Aktivitas ruh serta merta akan kembali pada jasad ketika seseorang terbangun karena al-hayat atau daya hidup jasad masih ada. Sedangkan mati, daya hayat jasad hilang sehingga ruh keluar dalam pengertian terlepas dari jasad seseorang selama-lamanya.
Terdapat beberapa pandangan para ahli tentang nafs dan ruh ini. Pendapat tersebut dapat dibagi menjadi dua kategori. Pertama, ruh dan nafs merupakan substansi yang sama, hanya saja berbeda dalam penyebutannya. Pandangan ini dikemukakan oleh Ikhwan al-Shafa dan umumnya para filosof.[10] Hal ini dapat dilihat dalam QS. al-A’raf [7]: 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",
Pada ayat ini kata nafs memiliki makna sama dengan ruh. Sayid Husen Naser menyatakan bahwa Allah telah memberikan perjanjian ketuhanan kepada ruh.[11] Ikhwan al-Shafa menyatakan bahwa ayat tersunt berkaitan dengan ruh di alam perjanjian (‘alam mitsaq) atau alam pertunjukan pertama (‘alam al-‘ardh al-awwal).[12]
Selanjutnya, ruh juga dimaknai nafs. Hal ini dapat dijumpai dalam QS. Al-An’am[6]: 93
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ ءَايَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu (ruh)". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS. Al-An’am[6]: 93)
Dapat disimpulkan wujud ruhani manusia disebut ruh karena wujud substansinya bukan sesuatu yang materi atau benda. Setelah ruh itu ditiupkan kepada jasad, maka ia bersinergi dan menyatu dengannya dan pada saat ini ruh tadi disebut dengan nafs.
Pendapat kedua, ruh dan nafs dianggap berbeda. Ruh dipandang lebih spesifik dari pada nafs, sebab ruh naturnya asli, sementara nafs telah memiliki kecenderungan pada duniawi dan kejelekan.[13]  Pandangan ini pada dasarnya tidak menafikan bahwa hakikat ruh pada dasarnya sama dengan nafs walaupun memiliki karakteristik yang berbeda.
Aspek wujud ruhani manusia ditiupkankan Allah sebagaimana digambarkan Allah dalam firman-Nya: QS. As-Sajadah [32]: 7-9
الَّذِي أَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ وَبَدَأَ خَلْقَ الْإِنْسَانِ مِنْ طِينٍ , ثُمَّ جَعَلَ نَسْلَهُ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ مَاءٍ مَهِينٍ , ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh) nya roh (ciptaan) -Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.(QS. As-Sajadah [32]:7-9)
Dengan ditupkannya ruh oleh Allah menjadikan manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan yang cenderung pada kebenaran. Hal inilah yang menjadikan manusia itu menjadi istimewa dibanding makhluk lain. Inilah yang disebut dengan fitrah yang hanif.
Al-Ghazali menyebut nafs sama dengan ruh. Dia menyebutnya dengan ruh-ruhani. Ibn Qayyim al-Jawziyyah berpendapat bahwa nafs dalam al-Quran tidak disebutkan untuk substansinya sendiri, sedangkan ruh disebut untuk menjelaskan substansinya sendiri. Nafs memiliki sifat tanah (al-Thiniyyat) dan api (al-nariyyah), sedangkan ruh bersifat seperti cahaya (al-nuriyyah) dan ruhani (al-ruhaniyyah. Nafs bersifat kemanusiian (al-nasutiyyah), sedang ruh bersifat ketuhanan (al-lahutiyyah). Sehingga Ibn Qayyim menyimpulkan bahwa ruh dan nafs itu merupakan substansi yang sama, tetapi berbeda sifatnya.[14] Kesimpulan ini sama dengan pandangan Ikhwan al-Shafa tentang kesamaan hakikat atau substansi ruh dengan nafs.
Dapat disimpulkan dari pandangan Ibn Qayyim ini bahwa nasf menjadi berbeda sifatnya dengan ruh karena nafs itu pada hakikatnya ruh yang sudah bersenyawa dengan jasad sehingga dia memperoleh penambahan sifat dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh jasad yang ditempatinya.
Adanya unsur tanah pada penciptaan jasmani manusia dengan sendirinya menjadikan manusia juga dipengaruhi oleh kekuatan materia alam seperti halnya dengan makhluk-makhluk lain, sehingga ia butuh makan, minum, hubungan seks dan sebagainya.Dengan adanya Ruh pada manusia memiliki kecendrungan kepada keindahan, pengorbanan, kesetiaan, pemujaan dan sebagainya. [15]
Abdul Mujib juga menulis bahwa ruh adalah substansi yang masih murni yang belum berhubungan dengan jasad, sedangkan nafs adalah ruh yang sudah menyatu dengan jasad.[16] Namun demikian Mujib tetap mamandang struktur pribadi manusi menjadi tiga, yaitu jasad, ruh, dan nafs.
Sebagai substansi yang esensial, ruh membutuhkan jasad untuk aktualisasi diri pada alam dunia (alam bendawi) ini, bukan sebaliknya. Adanya ruh pada manusia menjadikan eksistensi manusia berbeda dengan eksistensi makhluk lain.[17]
Dapat disimpulkan bahwa jasmani manusia karena berasal dari tanah atau saripati tanah, maka ia butuh segala sesuatu yang juga berasal dari tanah. Namun ruh manusia berasal dari Allah, maka ia juga memiliki kebutuhan utamanya kepada Allah dan segala sesuatu yang datangnya dari Allah.




[1] James Drever, Kamus Psikologi, terj. Nancy Simajuntak, Jakarta: Bina Aksara, 
[2] James P. Caplin, Kamus Lengkap Psikologi, Ter. Kartini Kartono, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
[3] Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 
[4] Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam...Ibid    
[5] Makna al’alaq selain dari pengertian sesuatu yang tergantung, ia juga berati lintah. Kenyataannya memamang ‘alaqah itu berbentuk darah yang bergumpal seperti lintah. Isa Abduh dan Ismael Yahya, Haqiqah al-Insan, Cairo: Dar al-Ma’arif, 
[6] Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,
[7] Ja’far ibn Harb menyatakan bahwa ruh itu berbeda dengan nyawa (hayah), sebab hayat bersifat ‘aradh (sifat) sedang ruh bersifat jawhar (substantif). Al-Jba’i juga menyatakan bahwa ruh itu  jisim, ia bukan al-hayat, sebab hayat merupakan ‘aradh. Ibn Qayyim al-Jawziyyah, op.cit. 
[8]  Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,
[9]  Abu Hamid Muhammad al-Ghazali, Maqashid al-Falasifah, editor Sulaiman Dunya, Mesir: Dar al-Ma’arif, 
[10] Abd  al-Lathif Muhammad al-‘Abduh, Al-Insan fi Fikri Ikhwan al-Shafa, Cairo: Maktabat al-Anjalu al-Mishriyat,   Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 
[11] Saiyid Husen Naser, Tasawuf dulu dan sekarang, Terj. B. Abdullah Hadi, Judul Asli, Living Sufism , Jakarta: Pustaka Firdaus, 
[12]  Abd  al-Lathif Muhammad al-‘Abduh, Al-Insan fi Fikri Ikhwan al-Shafa,,  Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, 
[13]  Abd  al-Lathif Muhammad al-‘Abduh, Al-Insan fi Fikri Ikhwan al-Shafa, 
[14] Syams al-Din ibn ‘Abd Allah ibn Qayyim al-Jawziyyah, Kitab al-ruh, Beirut: Dar al-Fikr,,  Sirajuddin zar menulis pandangan Ikhwan al-Shafa tentang unsur jasad manusia, yaitu Api memiliki natur panas, udara memiliki natus dingin, air memiliki natur basah, dan tanah memiliki natur kering. Empat unsur ini disebutnya dengan unsur alam terendah (anashir al-‘alam al-sufla).  Sirajuddin Zar, Konsep Penciptaan Alam dalam Pemikiran Islam,Sains, dan al-Quran,(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
[15] M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran, (Bandung: Mizan, 
[16] Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam, 
[17] Abdul Mujib, Kepribadian dalam Psikologi Islam,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar