Senin, 14 Januari 2013

Riwayat Hidup Abdurrauf Singkel


Riwayat Hidup Abdurrauf Singkel
Oleh: Dr. Ahmad Rivauzi, MA

Nama lengkap Abdurrauf Singkel adalah “Abd ar-Ra`uf  bin al-Jāwiyy al-Fansūriyy as-Sinkīliyy, selanjutnya disebut Abdurrauf Singkel. Ia adalah seorang Melayu dari pantai barat laut Aceh, tepatnya di Fansur, (Singkel). Ayahnya adalah seorang Arab yang bernama Syekh Ali. Hingga saat ini belum ada data pasti tanggal kelahirannya, namun menurut hipotesis Rinkes, yang juga dirujuk oleh Oman Fathurrahman, Abdurrauf dilahirkan diperkirakan sekitar tahun 1615.[1]  Perhitungan ini didasarkan dengan cara menghitung mundur dari saat kembalinya Abdurrauf dari tanah Arab yaitu tahun 1661.[2] Menurutnya, usia wajar seseorang mulai berkelana adalah dalam usia 25-30 tahun. Kalau perhitungan Ringkes itu dijadikan sebagai Referensi, maka Abdurrauf diperkirakan berangkat ke tanah Arab untuk menuntut ilmu pada usia 27 tahun. Dari data yang ada, Abdurrauf jelas tinggal di tanah Arab selama 19 tahun, [3] maka umur Abdurrauf saat kembali dari tanah Arab adalah pada usia 46 tahun. Dalam perkembangannya, menurur Azyumardi, perhitungan Rinkes ini dijadikan pegangan oleh para ahli.[4]
Menurut Hasjmi, nenek moyang Abdurrauf berasal dari Persia yang datang ke Samudra Pasai pada akhir abad ke 13. Mereka kemudian menetap di Fansur (Barus), sebuah kota pelabuhan tua yang penting di pantai barat Sumatera. Ayahnya adalah kakak dari Hamzah Fansuri, seorang tokoh tasawuf yang menyebarkan ajaran Wahdat al-Wujūd. Alasan Hasjmi ini didasari oleh karena pada sebagian karya Abdurrauf disebutkan dengan kata-kata : “yang berbangsa Hamzah Fansuri”. Azyumardi dan Oman meragukan keterangan Hasjmi ini, karena sebagaimana dijelaskan oleh Voorhoeve, pernyataan “ kang abangsa Hamzah Fansuri”  tidak berarti menunjukkan adanya pertalian darah dengan Hamzah Fansuri, baik pertalian keluarga maupun pertalian guru-murid, melainkan karena Fansur merupakan sebuah kota dagang yang sangat penting pada masa lalu, maka Fansur dipakai untuk penamaan seluruh wilayah pantai barat Sumatera. Atas dasar ini Abdurrauf dapat disebut dengan yang berbangsa Fansuri walaupun dia bukan berasal dari Barus. [5]
Pendidikannya dimulai dari ayahnya, ia belajar ilmu-ilmu agama, sejarah, bahasa Arab, mantiq, filsafat, sastra Arab/Melayu, dan bahasa Persia. Pendidikannya kemudian dilanjutkan ke Samudera Pasai dan belajar di Dayah Tinggi pada Syekh Syamsuddin al-Sumatrani.[6] Setelah itu melanjutkannya ke Arabia. Dalam sumber lainya juga disebutkan bahwa Abdurrauf juga pernah belajar ilmu tasawuf kepada Nuruddin ar-Raniri,[7] sebelum keberangkatannya ke Arabia. Dari perkiraan angka dengan memperhatikan angka tahun di atas, dapat dipastikan bahwa Abdurrauf terlebih dahulu belajar kepada Syamsuddin al-Sumatrani baru kemudian belajar dan melakukan bai’ah tarekat Syathariyah kepada Nuruddin ar-Raniri, tepatnya setelah meninggalnya Syamsuddin al-Sumatrani pada tahun 1630 M. 
Abdurrauf berangkat ke tanah Arab pada tahun 1642 dalam usia 27 tahun. Menurut Azra, Abdurrauf meninggalkan catatan biografis mengenai studinya di Arabia ini. Hal ini didasari dari salah satu karyanya, ‘Umdat al-Muhtājīn ilā Sulūk Maslak al-Mufridīn’. Dalam karyanya ini, Abdurrauf menuliskan 19 orang guru yang dari mereka dia mempelajari berbagai cabang disiplin Islam, dan 27 ulama lainnya yang dengan mereka dia memilki kontak dan hubungan pribadi. Abdurrauf belajar di sejumlah tempat, yang tersebar sepanjang rute perjalanan haji, dari Dhuha (Doha) di wilayah Teluk Persia, Yaman, Jeddah, dan akhirnya Makkah dan Madinah. Di Dhuha dia belajar kepada Abd al-Qadir al-Mawrir. Dari sini dia melanjutkan pelajarannya di Yaman, terutama di Bayt al-Faqih (ibn ‘Ujayl) dan Zabid, meskiupun dia juga memiliki beberapa orang guru di Mawza’, Mukha, al-Luhayyah, Hudaydah, dan Ta’izz.[8]
Di Bayt al-Faqih, sebagai daerah pusat pengajaran Islam di wilayah Yaman ini, dia belajar terutama kepada para ulama dari keluarga Ja’man, seperti Ibrahim bin Muhammad bin Ja’man, Ibrahim bin Abdullah bin Ja’man[9], dan Qadhi Ishaq bin Muhammad bin Ja’man[10].  Di samping itu, dia juga menjalin hubungan dengan Faqih al-Thayyib bin Abi al-Qasim bin Ja’man, mufti Bayt al-Faqih dan seorang Qadhi lain, Muhammad bin Ja’man. Keluarga Ja’man adalah sebuah keluarga sufi-ulama terkemuka di Yaman atau, sebagaimana dikemukakan al-Muhibbi, yang pada mulanya tinggal di Zabid sebelum akhirnya pindah ke Bayt al-Faqih. Sebagian ulama Ja’man adalah murid-murid Ahmad Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani.
Jaringan guru-guru Abdurrauf menjadi lebih kompleks ketika dia melanjutkan pelajarannya di Zabid. Di antara guru-gurunya adalah ‘Abd al-Rahim bin al-Shiddiq al-Khash, Amin bin Shiddiq al-Mizjaji, yang juga guru dari Ahmad al-Qusyasyi, Abd Allah bin Muhammad al-‘Adani (seorang yang disebut Qari), Abd al-Fath al-Khash, Sayyid al-Thahir bin al-Husayn al-Ahdal, Muhammad al-Baqi al-Mizjaji (seorang syekh Naqsyabandiyah termasyhur w. 1074/1664), Qadhi Muhammad bin Abi Bakar bin Muthayr (w. 1075/1664), Ahmad Abu al-Abbas bin Muthayr (w. 1075/1644) . Dalam rute perjalanan berikutnya, Abdurrauf belajar di Jeddah bersama ‘Abd al-Qadir al-Barkhali. Kemudian dia melanjutkannya ke Makkah, belajar kepada Badr al-Din al-Lahuri, Abd Allah al-Lahuri, dan ‘Ali bin Abd al-Qadir al-Thabari. Selanjutnya Abdurrauf juga melakukan kontak dengan ulama lainnya di Makkah yang tentunya juga ikut membentuk cakrawala sosio-intelektualnya. Mereka itu adalah, ‘Isa al-Magribi, ‘Abd al-‘Aziz al-Zamzami, Taj al-Din Ibn Ya’qub, ‘Ala’ al-Din al-Babili, Zayn al-‘Abidin al-Thabari, ‘Ali Jamal al-Makki dan ‘Abd Allah bin Sa’id Ba Qasyir al-Makki (1003-1076/1595-1665). [11]
Selama 19 tahun belajar di Arab, tahap terakhir dari perjalanan panjangnya ia belajar agama terutama tasawuf kepada dua orang tokoh sufi besar di Madinah yang memegang posisi penting dalam jaringan ulama di dunia Islam. Dua ulama besar tersebut adalah Syaikh Shafiuddin Ahmad al-Dajjani al-Qusyasyi ( + 1583-1660 M), seorang ulama besar Makkah dan satu orang lagi setelah meninggal al-Qusyasyi ia belajar selama satu tahun kepada murid al-Qusyasyi yaitu Syaikh Ibrahim al-Kurani (1616-1689 M) seorang ulama besar asal Madinah.[12] Menurut Abdullah, dari guru-gurunya ini dia menerima ijazah dalam perjalanan keshufian dan telah di izinkan memakai khirqah sebagai tanda dia telah dilantik menjadi mursyid dalam orde tarekat Syathariyah. Ini berarti ia telah boleh membaiat orang dan telah memiliki silsilah yang bersambung dari gurunya sampai kepada Nabi Nuhammad, Saw.[13] Selain dari tarekat Syathariyah, Abdurrauf juga belajar tarekat Qadiriyah dari al-Qusyasyi dan juga menurut Abdullah, Abdurrauf juga berafiliasi dengan tarekat Kubrawiyah, Suhrawardiyah, Naqsyabandiah dll.[14]
Dapat disimpulkan, karena selain dari dua ulama besar di atas, Abdurrauf yang juga belajar kepada ulama-ulama lain seperti ilmu di bidang fiqih, tafsir, hadits dan ilmu-ilmu agama lainnya yang mendiami daerah daerah seperti Jeddah, Makkah, Madinah, Mokha, dan lainnya,[15]  dapat diyakini bahwa Abdurrauf adalah seorang yang mumpuni dalam ilmu agama dan tasawuf sekaligus.
Abdurrauf kembali ke Aceh pada tahun 1661 M., yaitu satu tahun setelah al-Qusyasyi meninggal.[16] Pandangan-pangannya segera mendapat tempat dan merebut hati Sultan Safiyyatuddin, yang sedang memerintah Aceh, dan mengangkatnya sebagai Qadi Malik al-‘Adil,  atau mufti yang bertanggung jawab atas administrasi masalah keagamaan.[17]
Abdurrauf wafat pada tahun 1693 dan dimakamkan di samping makam Teungku Anjong yang dianggap paling keramat di Aceh, dekat Kuala Sungai Aceh. Inilah sebabnya Abdurrauf dikenal juga dengan sebutan Teungku di Kuala.[18] Untuk mengabadikan kemuliyaan Abdurrauf, sebuah perguruan tinggi di Aceh diberi nama Universitas Syiah Kuala. [19] Kalau dipakai perhitungan Rinkes, maka dapat disimpulkan bahwa Abdurrauf meninggal dalam usia 78 tahun.




[1] Oman Fathurrahman, Tanbīh al-Māsyī; Menyoal Wahdatul Wujud, Kasus Abdurrahman Singkel di Aceh Abad 17,Jakaerta: Mizan,
[2] Liaw Yock Fang, Sejarah Kesusastraan Melayu Klasik, Singapura: Pustaka Nasional PTE LTD, Data ini juga dapat ditemui dalam, A.H. Johns, The Gift Addressed to The Spiritof The Prophet, (Canberra: Published by Australian National University,
[3] Ibid
[4] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII,  Bandung: Penerbit Mizan,
[5] Ibid, h. 26
[6] Syamsuddin al-Sumatrani wafat 1630 M. adalah murid dari Hamzah Fansuri yang mengajarkan paham wujūdiyah. Ia mendapatkan posisi penting di masa Sultan Iskandar Muda. Lihat, M. Sholihin, Melacak Pemikiran Tasawuf di Nusantara, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,
[7] Nuruddin ar-Raniri  memiliki nama lengkap Nur ad-Din Muhammad Ibn ‘Ali Ibn Hasanji Ibn Muhammad ar-Raniri. Silsilah keturunannya berasal dari India, keturunan Arab. Dipanggil ar-Raniri karena beliau dilahirkan di daerah Ranir ( Rander) yang terletak dekat Gujarat (India) pada tahun yang belum diketahui dan meninggal dunia pada 22 Dzulhijjah 1096 H/ 21 September 1658 M di India. Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa tahun meninggalnya Nuruddin ar-Raniri adalah pada tahun 1666 Untuk pertama kalinya Nuruddin tinggal di Aceh pada Masa Sultan Iskandar Muda, kemudia ia meninggalkan Aceh karena tidak mendapatkan perhatian dari Sultan yang sedang berkuasa. Pada zaman Sultan Iskandar Sani, ia kembali ke Aceh untuk kedua kalinya dan baru mendapatkan perhatian dari Sultan. Dalam masa kembali yang ke dua ini ia tinggal di Aceh dari tahun 1637 sampai 1644 M. Ia akhirnya menjadi pelopor utama gerakan anti terhadap paham Hamzah Fansuri dan Syamsuddin al-Sumatrani. Lihat Hawash  Abdullah, Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-tokohnya di Nusantara, (Surabaya: al-Ikhlash, Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa tahun meninggalnya Nuruddin ar-Raniri adalah pada tahun 1666. Lihat Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII,
[8] Azra,Ibid.,
[9] Ibrahim bin Abdullah bin Ja’man (w. 1083/1672) adalah guru Abdurrauf dari keluarga Ja’man yang terpenting. Ulama yang satu ini dikenal sebagai seorang muhaddits dan Faqih. Dia adalah seorang pemberi fatwa yang produktif dan, karenanya, merupakan salah seorang ulama yang paling sering dicari untuk dijadikan tempat konsultasi. Menurut keterangan dari Abdurrauf sendiri, dia banyak menghabiskan waktunya dengan Ibrahim bin Abdullah bin Ja’man untuk belajar  dengan yang dinamakan dengan ilmu al-Zhahir (pengetahuan eksoteris), seperti fiqih, hadits, dan lainnya. Berkatnyalah Abdurrauf beroleh berkat untuk berkhidmat kepada Ahmad al-Qusyasyi di Madinah. Lihat Azra, dan Abdurrauf dalam Umdat al-Muhtājīn ilā Sulūk Maslak al-Mufridīn.
[10]  Ishaq bin Ja’man (w. 1014-1096/1605-1685) adalah ulama utama lainnya dari keluarga Ja’man tempat Abdurrauf belajar. Dia dilahirkan di Zabid, mendapatkan pendidikan awalnya di Yaman, antara lain, dari pamannya, Ibn al-Thayyib bin Ja’man. Kemudian dia belajar di Haramayn bersama Ibrahin al-Kurani, ‘Isa al-Magribi, dan Ibn ‘Abd al-Rasul al-Barzanji. Setelah kembali ke Bayt al-Faqih, dia memperoleh kemasyhuran sebagai faqih dan muhaddits terkemuka di wilayah itu. Dia meninggal di Zabid. Lihat Azra,
[11]  Azra, Ibid.,
[12] Azra, Ibid.,
[13] Hawas Abdullah,
[14] Ibid.,
[15] Snouck Hurgronje, Aceh, Rakyat dan Adat Istiadatnya, Jilid II, diterjemahkan dari De Atjehers  oleh Sutan Maimoen, Jakarta: INIS,
[16] Lihat, D.A. Rinkes, Abdoeraoef van Singkel’ Bijdrage tot de kennis van de mystiek op Sumatra en Java,  ( Heerenven: Hepkema, 1909), h.25, Hurgronje  Jilid II, , dan P. Voorhoeve , Bajan Tadjalli: gegevens voor een nadere studie over Abdurrauf van Singkel, TBG 85; terj: Aboe Bakar 
[17] Oman Fathurrahman,
[18]  Snouck Hurgronje,
[19] Oman Fathurrahman, 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar