Senin, 03 Desember 2012

PENDIDIKAN BERBASIS SPIRITUAL



PENDIDIKAN BERBASIS SPIRITUAL
Oleh: Ahmad Rivauzi, MA

A.            Konsep dan Pengertian Pendidikan Berbasis Spiritual


Manusia diciptakan Allah sebagai makhluk yang berkebudayaan dan berperadaban. Salah satu karakteristiknya adalah adanya hasrat dan kebutuhan untuk mengembangkan budaya bahkan mewariskannya kepada generasi sesudahnya. Hal inilah yang sesungguhnya yang menjadi bidang garapan dari pendidikan mulai dari bentuknya yang sederhana sampai kepada sebuah pendidikan yang memiliki system yang maju, lengkap, dan sempurna.
Semakin maju suatu peradaban, akan semakin maju dan sempurnalah system pendidikan yang dibentuknya yang tujuannya adalah sebagai upaya mewariskan, mengembangkan, memelihara budaya dan peradaban itu sendiri.
Setiap budaya membentuk pola dan corak didikan yang khas. Hal ini dapat dipahami bahwa seorang liberalis akan membentuk pola didikan liberal dan akan menggiring orang lain untuk menjadi liberalis. Seorang ateis akan membentuk pola ateis untuk menjadikan orang lain menjadi ateis dan begitu juga seorang yang menganut suatu keyakinan agama akan membentuk pola didikan sesuai dengan keyakinannya.
Pendidikan berbasis spiritual dalam tulisan ini didefinisikan sebagai konsep, system pendidikan yang menekankan pada pengembangan kemampuan ruhaniah atau spiritual dengan standar spiritual yang dapat dirasakan oleh peserta didik untuk meraih kesempurnaan hidup menurut ukuran Islam. Pengembangan kemampuan spiritual tidak terbatas pada peserta didik, akan tetapi mencakup semua pelaku pendidikan. Hal ini berangkat dari asumsi bahwa mendidik dan mengikuti pendidikan adalah ibadah. Ibadah secara fungsionil bertujuan pada pencerahan spiritual.[1]
            Pendidikan Berbasis Spiritual didasari oleh keyakinan bahwa aktivitas pendidikan merupakan ibadah kepada Allah swt. Manusia diciptakan sebagai hamba Allah yang suci dan diberi amanah untuk memelihara kesucian tersebut.
            Secara umum pendidikan berbasis spiritual memusatkan perhatiannya pada spiritualitas sebagai potensi utama dalam menggerakkan setiap tindakan pendidikan dan pengajaran, dalam hal ini dipahami sebagai sumber inspiratif normative dalam kegiatan pendidikan dan pengajaran, dan sekaligus spiritualitas sebagai tujuan pendidikan.
  1. Dasar Pendidikan Berbasis Spiritual

Pijakan utama pendidikan berbasis sipiritual adalah al-Qur’am dan hatits Nabi Muhammad Saw. Al-qur’an memuat nilai dan ketentuan lengkap dalam kehidupan manusia. Dalam hal ini, posisi hadits Nabi menempati sumber kedua yang berperan sebagai penjelas terhadap isyarat-isyarat hokum dan nilai-nilai yang terdapat dalam al-Qur’an. Peran al-Qur’an dalam kehidupan ilmu dan kehidupan, hokum, social, serta budaya masyarakat muslim dapat tergambar dalam firman Allah:
ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ 
-  Kitab (Al Quran) Ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,
-  (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezkiyang kami anugerahkan kepada mereka.
-  Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang Telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat
- Mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung (QS. Al-Baqarah: 2-5)


Allah menjelaskan akan eksistensial manusia di muka bumi ini. Dasarnya dapat terlihat dari paparan berikiut, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman-Nya:
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي ءَادَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَا أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ
Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “ Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:”Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lemah terhadap ini (keesaan Tuhan)”.(QS. al-A’raf:172)

Dalam ayat di atas, tergambar sebuah dialog antara Tuhan dan jiwa (ruh). Sebuah dialog hanya akan terwujud ketika terjadi suasana saling kenal. Waktu itu ruh sudah kenal dan merasakan keberadaan Allah dengan segala keagungan-Nya dalam artian yang sesungguhnya terbukti dengan adanya dialog. Ruh manusia sudah memiliki kesadaran spiritual tertinggi atau sudah berada pada level (maqam liqa’) dengan Tuhan dan menyatu dengan keseaan dan keagungan-Nya. Sekarang timbul pertanyaan, kenapa ketika manusia sudah berada di alam dinia ini, jiwa manusia tidak memiliki kesadaran spiritual itu lagi?. Jiwa manusia sudah lupa dan kesadaran spiritual itu berganti dengan “kesadaran ego”. 
            Jadi pada hakekatnya keberadaan manusia di alam dunia ini adalah untuk menapak tilasi perjanjian dulu, mengembalikan kesadaran spiritual yang dulu sudah ada dan melaksanakan amanah perjanjian itu. Pada ayat lain dapat kita temui tentang hakihat hidup ini sebagai ujian sebagaimana firman-Nya:
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu . Sipa di antara kamu yang lebih baik amalnya dan Dia maha perkasa lagi maha pengampun (QS. al-Mulk: 2)”.
           
Kebenaran pada hakekatnya hanya milik Allah dan Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya dan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya.
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ
 Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu”.(al-Baqarah : 147)
 وَلَا تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّه ِقُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّهِ أَنْ يُؤْتَى أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu". Katakanlah: "Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha luas karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui";(Ali Imran : 73)

Pada ayat lainnya Allah berfirman:
وَكَيْفَ تَكْفُرُونَ وَأَنْتُمْ تُتْلَى عَلَيْكُمْ ءَايَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ وَمَنْ يَعْتَصِمْ بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Q.S.  Ali Imran: 101-102)
            Kegiatan dan aktivitas pendidikan merupakan bagian penting dari semua tugas penciptaan yang diamanahkan oleh Allah kepada manusia. Dengan pendidikan, manusia dibentuk untuk menjadi khalifah, untuk mampu memakmurkan bumi, dan menjadi hamba Allah yang sesungguhnya. Bagi hamba Allah, kehidupannya merupakan manifestasi dari tugas penghambaan ibadah untuk redha Allah.
Secara ilmiah, kajian psikologi modern telah mengalami kemajuan yang cukup berarti terutama tentang penyingkapan dimensi spiritualitas manusia. Epistimologi ilmu dalam Islam berpijak dan  menempatkan wahyu serta intuitif ruhani dalam pencarian kebenaran sebagai epistimologi utama di samping rasionalitas. Tidak adanya pengakuan terhadap dimensi ini berdampak besar kepada kehampaan kebermaknaan kehidupan dalam aspek yang lebih luas.
Kekosongan akan makna hidup akan menyebabkan orang tidak memiliki harga diri yang kokoh  dan membuat dia tidak tahan akan penderitaan, kekurangan harta benda, maupun penderitaan jiwa karena pengalaman hidup  yang tidak sejalan dengan harapan. Kekosongan jiwa manuasia yang disebabkan oleh keterkecohan kehidupan rendah ini  juga pernah diungkapkan oleh Robert Musil, seorang nofelis terkenal dari Australia, dan para ahli kontemporer lain sebagaimana dikutip oleh Nurcholis Madjid , sebagai gejala “kepanikan epistimologi”akibat dari penisbian yang berlebihan dalam pandangan hidup.[2] Mereka mengatakan bahwa di eropa sekarang sedang mengalami kepanikan tentang pengetahuan dan makna. Keduanya merupakan persoalan utama pembahasan epistimologi dalam falsafah. Fenomenanya adalah dibawah gelimangan kemewahan harta itu terdapat perasaan putus asa, perasaan takut yang mencekan yang dikarenakan tidak adanya makna, tidak pastinya pengetahuan, dan tidak mungkinnya seseorang berkata dengan mantap tentang apa yang diketahuinya atau bahkan apa memang dia sudah tahu. Akhirnya pengetahuan menjadi sama nisbinya dengan segala sesuatu yang lain. Kenyataan ini dapat dipahami karena  semua yang mereka peroleh dilahirkan dari pemikiran yang hannya mampu menatap dan mengkaji sesuatu yang bersifat material, atau sesuatu yang dapat dicermati, dan diamati (observable) melalui instrumen indrawi, atau objek yang bersifat lahiriah. Persoalan ini juga pernah ditanggapi oleh Hamka yang mengkritisi tentang akar persoalan kehampaan jiwa ini “ Kerusakan dan kekacauan jiwa, adalah tersebab dari karena manusia tidak mempunyai tujuan hidup, tidak mempunyai ide”.[3]
Kenyataan ini tentu akan sangat jauh berbeda kita lihat dengan orang yang menghayati sebuah pengetahuan dan makna yang tidak cuma didapatkan melalui rasional saja tetapi juga melalui potensi spritual karena tidak semuanya dapat diketahui melalui proses-proses rasional dan kerena tidak semuanya masuk kedalam dunia empirik. Disinilah berperannya kedudukan iman yang dibarengi dengan berpikir dalam upaya penemuan hakikat sebuah kebenaran yang utuh yang kalau kita lihat isyarat al- Qur’an tentang perintah Allah untuk berpikir yang pada dasarnya bertujuan agar kita lebih mudah untuk beriman dan tunduk ta’abud kepadanya.
Sebuah kenyataan yang harus diakui adalah bahwa disatu sisi manusia adalah produk sejarah masa lalu dan produk lingkungannya dengan tidak menafikan peranan pribadi manusia bersangkutan yang juga ikut menentukan. Seperti juga pernah ditulis oleh Marleau Ponty sebagai englobe dan englobant yang artinya manusia tidak hanya dimuat atau dipengaruhi oleh dunia (englobe), tetapi juga memuat atau mempengaruhi dunia (englobant).[4] Hal ini bisa kita simpulkan bahwa kegagalan manusia sekarang dalam menemukan makna hidup adalah juga merupakan akibat dosa sejarah yang dilakukan oleh komunitas sosial, penyelenggara dan sistem pendidikan yang ada selama ini.
     Dapat disimpulkan bahwa dalam konteks pendidikan berbasis spiritual, al-Qur’an dan hadits adalah sumber pijakan normatifnya dan intuitif ruhaniyah serta rasionalitas empiric adalah instrumennya.

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah: 5)

                               
            Bagi seorang mukmin yang muslim, kehidupan adalah lapangan ibadah kepada Allah. Ibadah adalah Nilai aktivitas dan tindakan seorang muslim baik tindakan ruhani, rasional, emosional, spiritual, maupun tindakan lahiriyah sebagai manivestasi kongkritnya dalam kehidupan real.
  1. Tujuan Pendidikan Dalam Pendidikan Berbasis Spiritual
 
Pendidikan segyanya di arahkan kepada upaya membantu peserta didik meng’arifi tujuan penciptaannya sebagai hamba Allah dan sekaligus sebagai khalifah Allah di permukaan bumi. Lahirnya kesadaran ber-Tuhan dan tergapainya rahmat Allah sehingga lahirnya kemampuan manusia melakukan pertemuan (liqa’) dengan Tuhannya merupakan tujuan utamanya. Sebagaimana firman Allah:

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌفَمَنْ كَانَ يَرْجُوا لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Katakanlah: Sesungguhnya Aku Ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. Al-Kahfi: 110)



                [1] Ahmad Rivauzi, Pendidikan Berbasis Spiritual; Tela’ah Pemikiran Pendidikan Spiritual Abdurrauf Singkel dalam Kitab Tanbihal-Masyi, (Tesis), (Padang: PPs IAIN Imam Bonjol Padang, 2007), h. 91
                [2] Toto Tasmara,  Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Transendental Intelligence) Membentuk kepribadaian yang bertanggung jawab, Profesional, dan berakhlak, (Jakarta, Bina Insani Press,2001)
                [3] Hamka, Lembaga Budi, (Jakarta; Pustaka Panjimas, 1983),
                [4] Hanna Djumhana,Meraih Hidup Bermakna(Kisah Pribadi Dengan Pengalaman Tragis, Jakarta; Paramadina, 1996, Cet. ke-1

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar